Tampilkan postingan dengan label RELIGION. Tampilkan semua postingan
jadwal imsakiyah ramadhan 1433H
saya share jadwal imsakiyah ramadhan 1433H semoga bermanfaat bagi anda yang membutuhkan
" SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA SEMOGA PUASA KITA DI TERIMA OLEH ALLAH SWT" AMIN
Contoh Ceramah Ramadhan
Contoh Ceramah Ramadhan
HIJRAH DITINJAU DARI DIMENSI ROHANI
PENDAHULUAN
Pengertian hijrah menurut bahasa/etimologi adalah berpindah dari tempat yang satu ke tempat berikutnya. Sedangkan menurut arti istilah/terminologi adalah berpindah dari satu medan juang yang sempit (karena terdesak oleh situasi keamanan yang tidak kondusif) menuju ke arena yang lebih luas dan memberikan harapan di masa mendatang, di mana hal ini merupakan suatu taktik dan strategi dalam perjuangan untuk menyampaikan risalah/dakwah Islamiyah.
HAKIKAT HIJRAH NABI
Banyak komentar tentang hal ini dari kalangan ilmuan Barat, bahwa hijrahnya Nabi Muhammad itu adalah sebagai usaha to be differentmen (mengubah dari wajah seorang guru agama di Mekkah menjadi kepala suku di Madinah). Adalagi yang memandangnya sebagai transfiguration (penanjakan pribadi Muhammad) atau sebagai geographical emigration (perpindahan tempat untuk berdakwah). Bahkan ada pula yang dengan nada ‘sinis’ mengatakan bahwa hijrah ini adalah flaight or own flaight (lari atau melarikan diri). Dan masih banyak lagi komentar tentang hijrahnya Rasulullah tersebut, khususnya dari kalangan orang-orang yang tidak senang dengan perjuangan beliau.
Syekh Muhammad Syaltut (mantan rektor Universitas al-Azhar Kairo) mengatakan bahwa hijrahnya Rasulullah beserta para sahabatnya itu bukanlah upaya lari untuk menyelamatkan diri dan bukan pula karena tidak mampu menghadapi kekuatan musuh yang besar atau untuk mencari serta menumpuk kekayaan dan mengejar kedudukan dan kekuasaan, tetapi hijrah ini mereka lakukan sebagai kelanjutan dari hijrah nurani/hijrah qalbiyah untuk mempertahankan ideologi dalam rangka menegakkan kebenaran dan mengaktualisasikan akhlaqul karimah serta menghancurkan kebatilan.
Senada dengan pendapat ini adalah apa yang dikemukakan Dr. Muhammad al-Fahlan yang mengatakan bahwa hijrah Nabi bukan melarikan diri dari medan juang, dan bukan pula semata berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain, tetapi beliau berpindah menjauhkan diri dari bumi yang penuh kemusyrikan, bumi yang diperintah oleh kejahilan, kejahatan, dan kekejaman, menuju suatu tempat/bumi yang akan memancarkan sinar kebenaran, sinar keimanan, suatu upaya revolusioner untuk menebar cahaya iman untuk menerangi kegelapan jiwa, memberantas segenap kekejaman dan kezaliman.
HIJRAH DALAM AL-QUR’AN
Dalam Al-Qur’an tidak kurang dari tigapuluh ayat yang menyebut kata hijrah. Ayat-ayat tersebut menjelaskan dan menafsirkan makna hijrah itu sendiri sebagai sebuah solusi terakhir yang harus dilakukan manakala tidak lagi ditemukan cara atau jalan lain untuk melanjutkan misi dakwah dan atau mempertahankan keimanan. Hijrah dilakukan harus dengan penuh perhitungan, tidak hanya semata-mata karena terdesak situasi daerah yang akan ditinggalkan, akan tetapi daerah yang menjadi tujuan juga haruslah daerah yang memberikan harapan bagi cita-cita dan perjuangan, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya 14 abad silam.
Dalam Al-Qur’an, Allah memberi jaminan dan janji baik bagi mereka-mereka yang melakukan hijrah itu dengan ampunan dan syurga. Allah berfirman:
فالذين هاجروا وأخرجوا من ديارهم وأوذوا فى سبيلى وقاتلوا وقتلوا لأكفرن عنهم سيئاتهم ولأدخلنهم جنات تجرى من تحتها الأنهار (ال عمران: 195)
“Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya ... “ (Q.S. Ali Imran: 195).
Dalam surat an-Nahl: 41, Allah swt. berfirman:
والذين هاجروا فى الله من بعد ما ظلموا لنبوئنهم فى الدنيا حسنة ولأجر الآخرة أكبر لو كانوا يعلمون (النحل: 41)
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengatahui.”
Dalam ayat 110 surat yang sama disebutkan pula:
ثم إن ربك للذين هاجروا من بعد ما فتنوا ثم جاهدوا وصبروا إن ربك من بعدها لغفور رحيم . (النحل: 110)
“Dan sesungguhnya Tuhanmu (Pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar, sesungguhnya Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Ayat-ayat di atas telah menjelaskan sebab-sebab dan motivasi hijrah. Dari ayat-ayat tersebut ditandaskan dengan jelas beberapa unsur dan kondisi yang memungkinkan atau memperbolehkan kita untuk hijrah. Unsur-unsur tersebut antara lain; unsur pengusiran; unsur penyiksaan; unsur penganiayaan; dan unsur fitnahan.
Tindak kekejaman yang dilakukan rezim Quraisy di Mekkah dan para Kuffar di sekitarnya telah mencapai puncak dan melewat batas toleransi; yakni terancamnya ketenteraman rohani dan jasmani. Maka pada kondisi inilah perintah hijrah turun kepada Nabi saw. Dengan kata lain, apabila seseorang tidak lagi memperoleh kebebasan, tidak lagi merdeka atau leluasa dalam menyebarkan dan mengmebangkan syariat Islam di mana ia berada, maka barulah hijrah itu boleh dilakukan.
Dalam menghindari siksaan, penganiayaan, dan fitnahan dalam menyebarkan dakwah islamiyah di Mekka Rasulullah juga pernah mengajak para sahabat untuk hijrah ke negeri Habasyah dan ke Thaif. Walaupun banyak halangan dan rintangan dalam menjalankan dakwahnya, Rasulullah tetap tidak pernah berhenti, bahkan kobaran semangat juangnya itu ikut tumbuh membara di dada para sahabat. Hal ini dapat dilihat ketika upaya tekanan dari masyarakat Mekkah semakin kuat, para sahabat secara diam-diam memperkenalkan Islam kepada orang-orang Yastrib. Seorang da’i muda bernama Mus’ab bin Umair dikirim untuk mendampingi para sahabat itu. Dan dari sinilah akhirnya peduduk Madinah berduyun-duyun memeluk agama Islam.
ASPEK RUHANIAH DALAM PERISTIWA HIJRAH
Tahap demi tahap perkembangan situasi orang-orang Madinah ini lebih tampak dan jelas memberikan sambutan dengan lebih cepatnya mereka itu menerima ajaran Islam, sehingga hanya dalam kurun beberapa tahun saja (pada tahun 622 M) terwujudlah suatu perjanjian antara Nabi beserta para sahabatnya di Mekkah dengan Kabilah Aus dan Kabilah Khazraj, di mana kedua belah pihak berjanji akan saling membela jiika ada penyerangan dari pihak luar, dan akan membagi suka dan duka. Perjanjian yang dibuat secara rahasia ini akhirnya sampai juga ke telinga orang-orang Quraisy. Akibatnya, orang-orang Yastrib yang datang ke Mekkah terus ditangkapi dan disiksa. Dan terhadap Nabi beserta sahabat-sahabatnya diteror terus menerus, baik secara fisik maupun mental. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran orang Quraisy jika nantinya perjanjian antara Nabi dan penduduk Yastrib tersebut betul-betul berjalan secara efektif, yang tentunya akan merugikan kelompok Quraisy secara politis.
Pada hakikatnya, Rasulullah beserta para sahabatnya sebelum melakukan hijrah fisik, beliau telah berulang kali melaksanakan hijrah qalbiyah, yaitu menjauhkan diri dari suasana kemusyrikan yang melanda masyarakat ketika itu. Mereka menjauhkan diri agar tidak terpengaruh dari suasana yang menyesatkan, dari tingkah laku kotor dan tekanan serta intimidasi. Dengan cara-cara seperti tadi, mental para sahabat dapat bertahan dan menjadi kuat, menjadi gigih dalam berjuang dan semakin teguh pendiriannya.
Oleh karena itulah, tetkala mereka harus benar-benar melakukan hijrah fisik, hati mereka tidak lagi merasa bimbang, karena hal demikian bukanlah berarti lari menyelamatkan diri, bukan pula karena takut dalam menghadapi musuh, tetapi mereka hijrah untuk mempertahankan perjuangan, untuk menyampaikan risalah islamiyah. Mereka hijrah melanjutkan hijrah qalbiyah yang sebelumnya telah pernah mereka lakukan dan sekaligus sebagai bentuk realisasi untuk menengakkan kebenaran dan melaksanakan akhlaq yang luhur.
HIJRAH DAN TATANAN MASYARAKAT BARU
Setelah sampai di Madinah, ada tiga aspek pokok yang dilakuan Rasulullah dalam rangka membangun tatanan masyarakat baru, yaitu;
Iqamat sya’airul Islam, yakni menegakkan syi’ar agama Islam. Sebagai langkah yang dilakukan Nabi ini adalah mendirikan masjid Quba sebagai tempat ibadah dan sebagai tempat mengatur dan menkoordinir kegiatan-kegiatan lainnya.
Membangun ekonomi Islam dengan mepererat persaudaraan seagama atau dikenal dengan nistilah mu’akhah al-islamiyah. Kehidupan ekonomi yang tadinya serba egois, kapitalis, diganti dengan ekonomi persaudaraan yang didasari oleh semangat sosial ukhuwah Islamiyah. Pedagang Muhajirin yang datangnya dari Mekkah disatukan dengan petani-petani Anshor Madinah untuk menegakkan susunan baru bagi tatanan perekonomian menurut ajaran Islam.
Menetapkan peraturan-peraturan dasar negara yang disabut Kitabun Nabi atau piagam tertulis dari Nabi. Para sarjana Barat menyebut piagam ini sebagai Constitution of Madina (konstitusi Madinah). Piagam inilah yang dianggap sebagai First constitution of Islam (Undang-undang negara Islam yang pertama) atau the First Written Constitution on the World (konstitusi pertama di dunia).
HIJRAH DITINJAU DARI DIMENSI ROHANI
PENDAHULUAN
Pengertian hijrah menurut bahasa/etimologi adalah berpindah dari tempat yang satu ke tempat berikutnya. Sedangkan menurut arti istilah/terminologi adalah berpindah dari satu medan juang yang sempit (karena terdesak oleh situasi keamanan yang tidak kondusif) menuju ke arena yang lebih luas dan memberikan harapan di masa mendatang, di mana hal ini merupakan suatu taktik dan strategi dalam perjuangan untuk menyampaikan risalah/dakwah Islamiyah.
HAKIKAT HIJRAH NABI
Banyak komentar tentang hal ini dari kalangan ilmuan Barat, bahwa hijrahnya Nabi Muhammad itu adalah sebagai usaha to be differentmen (mengubah dari wajah seorang guru agama di Mekkah menjadi kepala suku di Madinah). Adalagi yang memandangnya sebagai transfiguration (penanjakan pribadi Muhammad) atau sebagai geographical emigration (perpindahan tempat untuk berdakwah). Bahkan ada pula yang dengan nada ‘sinis’ mengatakan bahwa hijrah ini adalah flaight or own flaight (lari atau melarikan diri). Dan masih banyak lagi komentar tentang hijrahnya Rasulullah tersebut, khususnya dari kalangan orang-orang yang tidak senang dengan perjuangan beliau.
Syekh Muhammad Syaltut (mantan rektor Universitas al-Azhar Kairo) mengatakan bahwa hijrahnya Rasulullah beserta para sahabatnya itu bukanlah upaya lari untuk menyelamatkan diri dan bukan pula karena tidak mampu menghadapi kekuatan musuh yang besar atau untuk mencari serta menumpuk kekayaan dan mengejar kedudukan dan kekuasaan, tetapi hijrah ini mereka lakukan sebagai kelanjutan dari hijrah nurani/hijrah qalbiyah untuk mempertahankan ideologi dalam rangka menegakkan kebenaran dan mengaktualisasikan akhlaqul karimah serta menghancurkan kebatilan.
Senada dengan pendapat ini adalah apa yang dikemukakan Dr. Muhammad al-Fahlan yang mengatakan bahwa hijrah Nabi bukan melarikan diri dari medan juang, dan bukan pula semata berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain, tetapi beliau berpindah menjauhkan diri dari bumi yang penuh kemusyrikan, bumi yang diperintah oleh kejahilan, kejahatan, dan kekejaman, menuju suatu tempat/bumi yang akan memancarkan sinar kebenaran, sinar keimanan, suatu upaya revolusioner untuk menebar cahaya iman untuk menerangi kegelapan jiwa, memberantas segenap kekejaman dan kezaliman.
HIJRAH DALAM AL-QUR’AN
Dalam Al-Qur’an tidak kurang dari tigapuluh ayat yang menyebut kata hijrah. Ayat-ayat tersebut menjelaskan dan menafsirkan makna hijrah itu sendiri sebagai sebuah solusi terakhir yang harus dilakukan manakala tidak lagi ditemukan cara atau jalan lain untuk melanjutkan misi dakwah dan atau mempertahankan keimanan. Hijrah dilakukan harus dengan penuh perhitungan, tidak hanya semata-mata karena terdesak situasi daerah yang akan ditinggalkan, akan tetapi daerah yang menjadi tujuan juga haruslah daerah yang memberikan harapan bagi cita-cita dan perjuangan, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya 14 abad silam.
Dalam Al-Qur’an, Allah memberi jaminan dan janji baik bagi mereka-mereka yang melakukan hijrah itu dengan ampunan dan syurga. Allah berfirman:
فالذين هاجروا وأخرجوا من ديارهم وأوذوا فى سبيلى وقاتلوا وقتلوا لأكفرن عنهم سيئاتهم ولأدخلنهم جنات تجرى من تحتها الأنهار (ال عمران: 195)
“Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya ... “ (Q.S. Ali Imran: 195).
Dalam surat an-Nahl: 41, Allah swt. berfirman:
والذين هاجروا فى الله من بعد ما ظلموا لنبوئنهم فى الدنيا حسنة ولأجر الآخرة أكبر لو كانوا يعلمون (النحل: 41)
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengatahui.”
Dalam ayat 110 surat yang sama disebutkan pula:
ثم إن ربك للذين هاجروا من بعد ما فتنوا ثم جاهدوا وصبروا إن ربك من بعدها لغفور رحيم . (النحل: 110)
“Dan sesungguhnya Tuhanmu (Pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar, sesungguhnya Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Ayat-ayat di atas telah menjelaskan sebab-sebab dan motivasi hijrah. Dari ayat-ayat tersebut ditandaskan dengan jelas beberapa unsur dan kondisi yang memungkinkan atau memperbolehkan kita untuk hijrah. Unsur-unsur tersebut antara lain; unsur pengusiran; unsur penyiksaan; unsur penganiayaan; dan unsur fitnahan.
Tindak kekejaman yang dilakukan rezim Quraisy di Mekkah dan para Kuffar di sekitarnya telah mencapai puncak dan melewat batas toleransi; yakni terancamnya ketenteraman rohani dan jasmani. Maka pada kondisi inilah perintah hijrah turun kepada Nabi saw. Dengan kata lain, apabila seseorang tidak lagi memperoleh kebebasan, tidak lagi merdeka atau leluasa dalam menyebarkan dan mengmebangkan syariat Islam di mana ia berada, maka barulah hijrah itu boleh dilakukan.
Dalam menghindari siksaan, penganiayaan, dan fitnahan dalam menyebarkan dakwah islamiyah di Mekka Rasulullah juga pernah mengajak para sahabat untuk hijrah ke negeri Habasyah dan ke Thaif. Walaupun banyak halangan dan rintangan dalam menjalankan dakwahnya, Rasulullah tetap tidak pernah berhenti, bahkan kobaran semangat juangnya itu ikut tumbuh membara di dada para sahabat. Hal ini dapat dilihat ketika upaya tekanan dari masyarakat Mekkah semakin kuat, para sahabat secara diam-diam memperkenalkan Islam kepada orang-orang Yastrib. Seorang da’i muda bernama Mus’ab bin Umair dikirim untuk mendampingi para sahabat itu. Dan dari sinilah akhirnya peduduk Madinah berduyun-duyun memeluk agama Islam.
ASPEK RUHANIAH DALAM PERISTIWA HIJRAH
Tahap demi tahap perkembangan situasi orang-orang Madinah ini lebih tampak dan jelas memberikan sambutan dengan lebih cepatnya mereka itu menerima ajaran Islam, sehingga hanya dalam kurun beberapa tahun saja (pada tahun 622 M) terwujudlah suatu perjanjian antara Nabi beserta para sahabatnya di Mekkah dengan Kabilah Aus dan Kabilah Khazraj, di mana kedua belah pihak berjanji akan saling membela jiika ada penyerangan dari pihak luar, dan akan membagi suka dan duka. Perjanjian yang dibuat secara rahasia ini akhirnya sampai juga ke telinga orang-orang Quraisy. Akibatnya, orang-orang Yastrib yang datang ke Mekkah terus ditangkapi dan disiksa. Dan terhadap Nabi beserta sahabat-sahabatnya diteror terus menerus, baik secara fisik maupun mental. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran orang Quraisy jika nantinya perjanjian antara Nabi dan penduduk Yastrib tersebut betul-betul berjalan secara efektif, yang tentunya akan merugikan kelompok Quraisy secara politis.
Pada hakikatnya, Rasulullah beserta para sahabatnya sebelum melakukan hijrah fisik, beliau telah berulang kali melaksanakan hijrah qalbiyah, yaitu menjauhkan diri dari suasana kemusyrikan yang melanda masyarakat ketika itu. Mereka menjauhkan diri agar tidak terpengaruh dari suasana yang menyesatkan, dari tingkah laku kotor dan tekanan serta intimidasi. Dengan cara-cara seperti tadi, mental para sahabat dapat bertahan dan menjadi kuat, menjadi gigih dalam berjuang dan semakin teguh pendiriannya.
Oleh karena itulah, tetkala mereka harus benar-benar melakukan hijrah fisik, hati mereka tidak lagi merasa bimbang, karena hal demikian bukanlah berarti lari menyelamatkan diri, bukan pula karena takut dalam menghadapi musuh, tetapi mereka hijrah untuk mempertahankan perjuangan, untuk menyampaikan risalah islamiyah. Mereka hijrah melanjutkan hijrah qalbiyah yang sebelumnya telah pernah mereka lakukan dan sekaligus sebagai bentuk realisasi untuk menengakkan kebenaran dan melaksanakan akhlaq yang luhur.
HIJRAH DAN TATANAN MASYARAKAT BARU
Setelah sampai di Madinah, ada tiga aspek pokok yang dilakuan Rasulullah dalam rangka membangun tatanan masyarakat baru, yaitu;
Iqamat sya’airul Islam, yakni menegakkan syi’ar agama Islam. Sebagai langkah yang dilakukan Nabi ini adalah mendirikan masjid Quba sebagai tempat ibadah dan sebagai tempat mengatur dan menkoordinir kegiatan-kegiatan lainnya.
Membangun ekonomi Islam dengan mepererat persaudaraan seagama atau dikenal dengan nistilah mu’akhah al-islamiyah. Kehidupan ekonomi yang tadinya serba egois, kapitalis, diganti dengan ekonomi persaudaraan yang didasari oleh semangat sosial ukhuwah Islamiyah. Pedagang Muhajirin yang datangnya dari Mekkah disatukan dengan petani-petani Anshor Madinah untuk menegakkan susunan baru bagi tatanan perekonomian menurut ajaran Islam.
Menetapkan peraturan-peraturan dasar negara yang disabut Kitabun Nabi atau piagam tertulis dari Nabi. Para sarjana Barat menyebut piagam ini sebagai Constitution of Madina (konstitusi Madinah). Piagam inilah yang dianggap sebagai First constitution of Islam (Undang-undang negara Islam yang pertama) atau the First Written Constitution on the World (konstitusi pertama di dunia).
Contoh Ceramah Ramadhan
Contoh Ceramah Ramadhan
HAKIKAT MANUSIA DAN KEMANUSIAAN
MENURUT AL-QUR’AN
MUQADDIMAH
Dalam suasana kemajuan sains dan teknologi dewasa ini, masalah hakikat manusia dan kemanusiaan menjadi semakin aktual untuk dikaji. Urgensi kajian ini lebih terasa lagi setelah disadari bahwa pengetahuan kita sendiri tentang hakikat manusia masih sangat terbatas. Keterbatasan pengetahuan tersebut disebabkan multikompleks-nya permasalahan manusia. Selain itu, manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dihembuskan roh ciptaan Allah ke dalam dirinya. Persoalan roh adalah urusan Tuhan, sementara manusia hanya diberikan seditkit pengetahuan tentang hal itu. Kita hanya mengetahui yang bersifat lahiriah saja, tidak menjangkau hal-hal yang berisifat immaterial dan dimensi spiritual dari manusia.
Oleh karena itu, khutbah kali ini mencoba memberikan jawaban terhadap pertanyaan: Siapa manusia itu? Dan untuk apa manusia diciptakan?
HAKIKAT MANUSIA
Para ahli dari berbagai disiplin ilmu telah mengemukakan jawaban yang bervariasi tentang manusia. Pandangan ahli Ilmu Mantiq (Logika) menyatakan bahwa manusia adalah hewan yang berfikir (hayaw±n al-n±thiq), ahli Antropologi Budaya mengatakan bahwa manusia adalah makhluk budaya (homo sapiens), Sosiolog berpendapat; manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon), kaum agamawan mengatakan manusia adalah makhluk yang senantiasa bergantung kepada kekuatan ‘Supranatural’ yang ada di luar dirinya, dan kaum komunis berpandangan bahwa manusia adalah makhluk biologis dan ekonomis. Menurut golongan yang terakhir ini, manusia sebagai makhluk biologis, yang diutamakan adalah unsur materi, karena itu Tuhan yang bersifat immaterial (transenden) ditolak eksistensinya dan agama adalah candu masyarakat. Adapaun manusia sebagai makhluk ekonomis (homo economicus) maka faktor kerja dan produksilah yang merupakan hakikat manusia.
Pandangan yang dikemukakan di atas hanya memberikan gambaran sebagian dari potensi dan kemampuan yang dimiliki manusia, dan belum memberikan gambaran secara utuh siapa sesungguhnya yang dimaksud manusia.
Al-Qur’an berbicara tentang manusia dimulai dari QS. al-`Alaq [96], surah yang pertama diturunkan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. Dalam surah itu, Allah tiga kali menyebut kata al-Ins±n (manusia), yang mencerminkan gambaran umum tentang manusia; pertama, bahwa manusia tercipta dari `alaq (segumpal darah); kedua, bahwa hanya manusia yang dikaruniai ilmu; dan ketiga, bahwa manusia memiliki sifat sombong yang bisa menyebabkan lupa kepada sang Pencipta.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Karakter umum manusia pada surah yang pertama ini diperjelas dan dirinci pada surah-surah yang turun kemudian, seperti QS. al-Muminun [23]: 12-14:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ(12)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ(13)ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ(14)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang tersimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging. Kemudia Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”
Allah sengaja berulangkali mengungkapkan bahwa manusia tercipta dari tanah, air yang memancar di antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan, dari segumpal darah, dan seterusnya, dengan tujuan untuk mengingatkan manusia atas kelemahan dan kehinaannya, dan agar manusia tidak arogan dan sombong, melebihi kemampuannya. Karena, dari asal kejadian yang bersifat material inilah manusia cenderung berprilaku dan memilki sifat-sifat rendah, antara lain:
i) Melampaui batas, QS. al-`Alaq [96]: 6-7
كلا إن الإنسان ليطغى أن رءاه استغنى
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampau batas, karena dia melihat dirinya serba cukup”.
ii) Bersifat tergesa-gesa, QS. al-Isr±’ [17]: 11
... وكان الإنسان عجولا
“… dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”. Manusia yang memiliki sifat ini tidak sabar dalam menghadapi sesuatu , ia selalu terburu-buru, ingin cepat-cepat memetik hasil, meskipun itu harus ditempuh dengan jalan yang tidak halal.
iii) Suka berkeluh kesah, QS. al-Ma`±rij [70]: 19
إن الإنسان خلق هلوعا
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir”. Manusia, jika mendapat kesulitan mengeluh, tetapi jika ia mendapat keberuntungan ia bakhil.
iv) Suka membantah, QS. al-Kahfi [18]: 54
... وكان الإنسان أكثر شيئ جدلا
“… dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”. Manusia terkadang lebih banyak memper-turutkan kehendak hawa nafsunya daripda mengikuti bimbingan wahyu Ilahi, padahal nafsu ammarah itu mendorong manusia berbuat maksiat.
v) Ingkar dan tidak berterima kasih kepada Tuhan, QS. al`Adiyat [100]: 6
إن الإنسان لربه لكنود
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya” Nikmat dan anugrah yang diperoleh manusia tidak pernah memberikan kepuasan pada dirinya. Ia tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Alah kepadanya, padahal nikmat dan anugrah Ilahi itu tidak ternilai banyaknya.
Apabila manusia memperturutkan prilaku dari ayat-ayat tersebut di atas maka ia akan semakin jauh dari hakikat kemanusiaannya.
Al-Qur’an, di samping menunjukkan sifat-sifat kelemahan yang dimiliki manusia, yang dapat meruntuhkan derajat kemanusiaannya ke tempat yang rendah dan tercela, juga menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki potensi dan kemampuan untuk menempati tempat yang tertinggi dan terpuji di antara makhluk ciptaan Allah.
Al-Qur’an memberikan pujian kepada manusia, seperti pernyataan Allah dalam QS. al-T³n [95]: 4
لقد خلقنا الإنسان فى أحسن تقويم
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Kemudian Allah menegaskan kemuliaan makhluk manusia dibanding makhluk-makhluk lainnya, seperti pernyataan Allah dalam QS. al-Isra±’ [17]: 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي ءَادَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا(70)
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adan. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.
Apabila manusia memelihara dan mengembangkan potensi positif yang dimilikinya maka ia akan menemukan jatidirinya.
UNTUK APA MANUSIA DICIPTAKAN?
Manusia diciptakan bukan untuk hidup sekehendaknya, bukan pula untuk makan, hura-hura, dan mencari kebebasan tanpa batas. Tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan ridha Allah (mardhatillah), sebagaimana pernyataan Allah dalam QS. al-An`am [6]: 162
قل إن صلاتى ونسكى ومحياى ومماتى لله رب العالمين.
“Katakanlah,”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam”.
Dalam mencari ridha Allah, manusia diwajibkan untuk menghambakan diri kepada-Nya dalam segala aktivitas yang dilakukannya. Tugas suci inilah yang disebut ibadah dalam pengertian umum dan sekaligus sebagai tujuan diciptakannya manusia. QS. adz-Dzariyat [51]: 56 menyebutkan:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
Dalam mengemban tugas pengabdian, manusia diberi peran oleh Allah swt. sebagai khalifah di muka bumi ini. Peran kekhalifahan ini dalam rangka memelihara, melestarikan dan memakmurkan jagad raya ini.
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi”. QS. al-An`±m [6]: 165,
KHATIMAH
Hakikat manusia menurut al-Qur’an adalah makhluk ciptaan Allah yang memilki 2 (dua) dimensi; dimensi meterial dan dimensi spiritual. Dengan dimensi material (tanah), manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam seperti makhluk-makhluk lain, sehingga ia butuh makan, minum, hubungan seksual, dan sebagainya. Dimensi ini mengantar manusia ke alam kehidupan yang kurang bermakna, cenderung menjadi makhluk yang amat aniaya, ingkar nikmat, banyak membangkang, tidak sabar, dan bersifat keluh-kesah. Sebaliknya, dengan dimensi spiritual (roh) , manusia diantar untuk cenderung kepada keindahan, kebenaran, pengorbanan, kesetiaan, penghambaan kepada Allah, dan sebagainya. Dimensi ini membawa manusia kepada suatu realitas mengaktualkan posisinya sebagai `abid (hamba) dan khalifah menuju kepada Yang Maha Sempurna.
Dengan memenuhi kebutuhan hidup manusia berdasarkan pada kedua dimensi tersebut sesuai dengan petunjuk Ilahi, maka manusia akan menemukan hakikat kemanusiaannya.
HAKIKAT MANUSIA DAN KEMANUSIAAN
MENURUT AL-QUR’AN
MUQADDIMAH
Dalam suasana kemajuan sains dan teknologi dewasa ini, masalah hakikat manusia dan kemanusiaan menjadi semakin aktual untuk dikaji. Urgensi kajian ini lebih terasa lagi setelah disadari bahwa pengetahuan kita sendiri tentang hakikat manusia masih sangat terbatas. Keterbatasan pengetahuan tersebut disebabkan multikompleks-nya permasalahan manusia. Selain itu, manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dihembuskan roh ciptaan Allah ke dalam dirinya. Persoalan roh adalah urusan Tuhan, sementara manusia hanya diberikan seditkit pengetahuan tentang hal itu. Kita hanya mengetahui yang bersifat lahiriah saja, tidak menjangkau hal-hal yang berisifat immaterial dan dimensi spiritual dari manusia.
Oleh karena itu, khutbah kali ini mencoba memberikan jawaban terhadap pertanyaan: Siapa manusia itu? Dan untuk apa manusia diciptakan?
HAKIKAT MANUSIA
Para ahli dari berbagai disiplin ilmu telah mengemukakan jawaban yang bervariasi tentang manusia. Pandangan ahli Ilmu Mantiq (Logika) menyatakan bahwa manusia adalah hewan yang berfikir (hayaw±n al-n±thiq), ahli Antropologi Budaya mengatakan bahwa manusia adalah makhluk budaya (homo sapiens), Sosiolog berpendapat; manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon), kaum agamawan mengatakan manusia adalah makhluk yang senantiasa bergantung kepada kekuatan ‘Supranatural’ yang ada di luar dirinya, dan kaum komunis berpandangan bahwa manusia adalah makhluk biologis dan ekonomis. Menurut golongan yang terakhir ini, manusia sebagai makhluk biologis, yang diutamakan adalah unsur materi, karena itu Tuhan yang bersifat immaterial (transenden) ditolak eksistensinya dan agama adalah candu masyarakat. Adapaun manusia sebagai makhluk ekonomis (homo economicus) maka faktor kerja dan produksilah yang merupakan hakikat manusia.
Pandangan yang dikemukakan di atas hanya memberikan gambaran sebagian dari potensi dan kemampuan yang dimiliki manusia, dan belum memberikan gambaran secara utuh siapa sesungguhnya yang dimaksud manusia.
Al-Qur’an berbicara tentang manusia dimulai dari QS. al-`Alaq [96], surah yang pertama diturunkan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. Dalam surah itu, Allah tiga kali menyebut kata al-Ins±n (manusia), yang mencerminkan gambaran umum tentang manusia; pertama, bahwa manusia tercipta dari `alaq (segumpal darah); kedua, bahwa hanya manusia yang dikaruniai ilmu; dan ketiga, bahwa manusia memiliki sifat sombong yang bisa menyebabkan lupa kepada sang Pencipta.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Karakter umum manusia pada surah yang pertama ini diperjelas dan dirinci pada surah-surah yang turun kemudian, seperti QS. al-Muminun [23]: 12-14:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ(12)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ(13)ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ(14)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang tersimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging. Kemudia Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”
Allah sengaja berulangkali mengungkapkan bahwa manusia tercipta dari tanah, air yang memancar di antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan, dari segumpal darah, dan seterusnya, dengan tujuan untuk mengingatkan manusia atas kelemahan dan kehinaannya, dan agar manusia tidak arogan dan sombong, melebihi kemampuannya. Karena, dari asal kejadian yang bersifat material inilah manusia cenderung berprilaku dan memilki sifat-sifat rendah, antara lain:
i) Melampaui batas, QS. al-`Alaq [96]: 6-7
كلا إن الإنسان ليطغى أن رءاه استغنى
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampau batas, karena dia melihat dirinya serba cukup”.
ii) Bersifat tergesa-gesa, QS. al-Isr±’ [17]: 11
... وكان الإنسان عجولا
“… dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”. Manusia yang memiliki sifat ini tidak sabar dalam menghadapi sesuatu , ia selalu terburu-buru, ingin cepat-cepat memetik hasil, meskipun itu harus ditempuh dengan jalan yang tidak halal.
iii) Suka berkeluh kesah, QS. al-Ma`±rij [70]: 19
إن الإنسان خلق هلوعا
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir”. Manusia, jika mendapat kesulitan mengeluh, tetapi jika ia mendapat keberuntungan ia bakhil.
iv) Suka membantah, QS. al-Kahfi [18]: 54
... وكان الإنسان أكثر شيئ جدلا
“… dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”. Manusia terkadang lebih banyak memper-turutkan kehendak hawa nafsunya daripda mengikuti bimbingan wahyu Ilahi, padahal nafsu ammarah itu mendorong manusia berbuat maksiat.
v) Ingkar dan tidak berterima kasih kepada Tuhan, QS. al`Adiyat [100]: 6
إن الإنسان لربه لكنود
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya” Nikmat dan anugrah yang diperoleh manusia tidak pernah memberikan kepuasan pada dirinya. Ia tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Alah kepadanya, padahal nikmat dan anugrah Ilahi itu tidak ternilai banyaknya.
Apabila manusia memperturutkan prilaku dari ayat-ayat tersebut di atas maka ia akan semakin jauh dari hakikat kemanusiaannya.
Al-Qur’an, di samping menunjukkan sifat-sifat kelemahan yang dimiliki manusia, yang dapat meruntuhkan derajat kemanusiaannya ke tempat yang rendah dan tercela, juga menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki potensi dan kemampuan untuk menempati tempat yang tertinggi dan terpuji di antara makhluk ciptaan Allah.
Al-Qur’an memberikan pujian kepada manusia, seperti pernyataan Allah dalam QS. al-T³n [95]: 4
لقد خلقنا الإنسان فى أحسن تقويم
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Kemudian Allah menegaskan kemuliaan makhluk manusia dibanding makhluk-makhluk lainnya, seperti pernyataan Allah dalam QS. al-Isra±’ [17]: 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي ءَادَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا(70)
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adan. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.
Apabila manusia memelihara dan mengembangkan potensi positif yang dimilikinya maka ia akan menemukan jatidirinya.
UNTUK APA MANUSIA DICIPTAKAN?
Manusia diciptakan bukan untuk hidup sekehendaknya, bukan pula untuk makan, hura-hura, dan mencari kebebasan tanpa batas. Tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan ridha Allah (mardhatillah), sebagaimana pernyataan Allah dalam QS. al-An`am [6]: 162
قل إن صلاتى ونسكى ومحياى ومماتى لله رب العالمين.
“Katakanlah,”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam”.
Dalam mencari ridha Allah, manusia diwajibkan untuk menghambakan diri kepada-Nya dalam segala aktivitas yang dilakukannya. Tugas suci inilah yang disebut ibadah dalam pengertian umum dan sekaligus sebagai tujuan diciptakannya manusia. QS. adz-Dzariyat [51]: 56 menyebutkan:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
Dalam mengemban tugas pengabdian, manusia diberi peran oleh Allah swt. sebagai khalifah di muka bumi ini. Peran kekhalifahan ini dalam rangka memelihara, melestarikan dan memakmurkan jagad raya ini.
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi”. QS. al-An`±m [6]: 165,
KHATIMAH
Hakikat manusia menurut al-Qur’an adalah makhluk ciptaan Allah yang memilki 2 (dua) dimensi; dimensi meterial dan dimensi spiritual. Dengan dimensi material (tanah), manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam seperti makhluk-makhluk lain, sehingga ia butuh makan, minum, hubungan seksual, dan sebagainya. Dimensi ini mengantar manusia ke alam kehidupan yang kurang bermakna, cenderung menjadi makhluk yang amat aniaya, ingkar nikmat, banyak membangkang, tidak sabar, dan bersifat keluh-kesah. Sebaliknya, dengan dimensi spiritual (roh) , manusia diantar untuk cenderung kepada keindahan, kebenaran, pengorbanan, kesetiaan, penghambaan kepada Allah, dan sebagainya. Dimensi ini membawa manusia kepada suatu realitas mengaktualkan posisinya sebagai `abid (hamba) dan khalifah menuju kepada Yang Maha Sempurna.
Dengan memenuhi kebutuhan hidup manusia berdasarkan pada kedua dimensi tersebut sesuai dengan petunjuk Ilahi, maka manusia akan menemukan hakikat kemanusiaannya.
Tag :
RELIGION
