Tampilkan postingan dengan label RELIGION. Tampilkan semua postingan

jadwal imsakiyah ramadhan 1433H

  saya share jadwal imsakiyah ramadhan 1433H semoga bermanfaat bagi anda yang membutuhkan
" SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA SEMOGA PUASA KITA DI TERIMA OLEH ALLAH SWT" AMIN


 
Sabtu, 21 Juli 2012
Tag :

Contoh Ceramah Ramadhan

Contoh Ceramah Ramadhan

HIJRAH DITINJAU DARI DIMENSI ROHANI

PENDAHULUAN

Pengertian hijrah menurut bahasa/etimologi adalah berpindah dari tempat yang satu ke tempat berikutnya. Sedangkan menurut arti istilah/terminologi adalah berpindah dari satu medan juang yang sempit (karena terdesak oleh situasi keamanan yang tidak kondusif) menuju ke arena yang lebih luas dan memberikan harapan di masa mendatang, di mana hal ini merupakan suatu taktik dan strategi dalam perjuangan untuk menyampaikan risalah/dakwah Islamiyah.

HAKIKAT HIJRAH NABI

Banyak komentar tentang hal ini dari kalangan ilmuan Barat, bahwa hijrahnya Nabi Muhammad itu adalah sebagai usaha to be differentmen (mengubah dari wajah seorang guru agama di Mekkah menjadi kepala suku di Madinah). Adalagi yang memandangnya sebagai transfiguration (penanjakan pribadi Muhammad) atau sebagai geographical emigration (perpindahan tempat untuk berdakwah). Bahkan ada pula yang dengan nada ‘sinis’ mengatakan bahwa hijrah ini adalah flaight or own flaight (lari atau melarikan diri). Dan masih banyak lagi komentar tentang hijrahnya Rasulullah tersebut, khususnya dari kalangan orang-orang yang tidak senang dengan perjuangan beliau.
Syekh Muhammad Syaltut (mantan rektor Universitas al-Azhar Kairo) mengatakan bahwa hijrahnya Rasulullah beserta para sahabatnya itu bukanlah upaya lari untuk menyelamatkan diri dan bukan pula karena tidak mampu menghadapi kekuatan musuh yang besar atau untuk mencari serta menumpuk kekayaan dan mengejar kedudukan dan kekuasaan, tetapi hijrah ini mereka lakukan sebagai kelanjutan dari hijrah nurani/hijrah qalbiyah untuk mempertahankan ideologi dalam rangka menegakkan kebenaran dan mengaktualisasikan akhlaqul karimah serta menghancurkan kebatilan.
Senada dengan pendapat ini adalah apa yang dikemukakan Dr. Muhammad al-Fahlan yang mengatakan bahwa hijrah Nabi bukan melarikan diri dari medan juang, dan bukan pula semata berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain, tetapi beliau berpindah menjauhkan diri dari bumi yang penuh kemusyrikan, bumi yang diperintah oleh kejahilan, kejahatan, dan kekejaman, menuju suatu tempat/bumi yang akan memancarkan sinar kebenaran, sinar keimanan, suatu upaya revolusioner untuk menebar cahaya iman untuk menerangi kegelapan jiwa, memberantas segenap kekejaman dan kezaliman.

HIJRAH DALAM AL-QUR’AN

Dalam Al-Qur’an tidak kurang dari tigapuluh ayat yang menyebut kata hijrah. Ayat-ayat tersebut menjelaskan dan menafsirkan makna hijrah itu sendiri sebagai sebuah solusi terakhir yang harus dilakukan manakala tidak lagi ditemukan cara atau jalan lain untuk melanjutkan misi dakwah dan atau mempertahankan keimanan. Hijrah dilakukan harus dengan penuh perhitungan, tidak hanya semata-mata karena terdesak situasi daerah yang akan ditinggalkan, akan tetapi daerah yang menjadi tujuan juga haruslah daerah yang memberikan harapan bagi cita-cita dan perjuangan, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya 14 abad silam.
Dalam Al-Qur’an, Allah memberi jaminan dan janji baik bagi mereka-mereka yang melakukan hijrah itu dengan ampunan dan syurga. Allah berfirman:
فالذين هاجروا وأخرجوا من ديارهم وأوذوا فى سبيلى وقاتلوا وقتلوا لأكفرن عنهم سيئاتهم ولأدخلنهم جنات تجرى من تحتها الأنهار (ال عمران: 195)
“Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya ... “ (Q.S. Ali Imran: 195).

Dalam surat an-Nahl: 41, Allah swt. berfirman:
والذين هاجروا فى الله من بعد ما ظلموا لنبوئنهم فى الدنيا حسنة ولأجر الآخرة أكبر لو كانوا يعلمون (النحل: 41)
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengatahui.”

Dalam ayat 110 surat yang sama disebutkan pula:
ثم إن ربك للذين هاجروا من بعد ما فتنوا ثم جاهدوا وصبروا إن ربك من بعدها لغفور رحيم . (النحل: 110)
“Dan sesungguhnya Tuhanmu (Pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar, sesungguhnya Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ayat-ayat di atas telah menjelaskan sebab-sebab dan motivasi hijrah. Dari ayat-ayat tersebut ditandaskan dengan jelas beberapa unsur dan kondisi yang memungkinkan atau memperbolehkan kita untuk hijrah. Unsur-unsur tersebut antara lain; unsur pengusiran; unsur penyiksaan; unsur penganiayaan; dan unsur fitnahan.
Tindak kekejaman yang dilakukan rezim Quraisy di Mekkah dan para Kuffar di sekitarnya telah mencapai puncak dan melewat batas toleransi; yakni terancamnya ketenteraman rohani dan jasmani. Maka pada kondisi inilah perintah hijrah turun kepada Nabi saw. Dengan kata lain, apabila seseorang tidak lagi memperoleh kebebasan, tidak lagi merdeka atau leluasa dalam menyebarkan dan mengmebangkan syariat Islam di mana ia berada, maka barulah hijrah itu boleh dilakukan.
Dalam menghindari siksaan, penganiayaan, dan fitnahan dalam menyebarkan dakwah islamiyah di Mekka Rasulullah juga pernah mengajak para sahabat untuk hijrah ke negeri Habasyah dan ke Thaif. Walaupun banyak halangan dan rintangan dalam menjalankan dakwahnya, Rasulullah tetap tidak pernah berhenti, bahkan kobaran semangat juangnya itu ikut tumbuh membara di dada para sahabat. Hal ini dapat dilihat ketika upaya tekanan dari masyarakat Mekkah semakin kuat, para sahabat secara diam-diam memperkenalkan Islam kepada orang-orang Yastrib. Seorang da’i muda bernama Mus’ab bin Umair dikirim untuk mendampingi para sahabat itu. Dan dari sinilah akhirnya peduduk Madinah berduyun-duyun memeluk agama Islam.

ASPEK RUHANIAH DALAM PERISTIWA HIJRAH

Tahap demi tahap perkembangan situasi orang-orang Madinah ini lebih tampak dan jelas memberikan sambutan dengan lebih cepatnya mereka itu menerima ajaran Islam, sehingga hanya dalam kurun beberapa tahun saja (pada tahun 622 M) terwujudlah suatu perjanjian antara Nabi beserta para sahabatnya di Mekkah dengan Kabilah Aus dan Kabilah Khazraj, di mana kedua belah pihak berjanji akan saling membela jiika ada penyerangan dari pihak luar, dan akan membagi suka dan duka. Perjanjian yang dibuat secara rahasia ini akhirnya sampai juga ke telinga orang-orang Quraisy. Akibatnya, orang-orang Yastrib yang datang ke Mekkah terus ditangkapi dan disiksa. Dan terhadap Nabi beserta sahabat-sahabatnya diteror terus menerus, baik secara fisik maupun mental. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran orang Quraisy jika nantinya perjanjian antara Nabi dan penduduk Yastrib tersebut betul-betul berjalan secara efektif, yang tentunya akan merugikan kelompok Quraisy secara politis.
Pada hakikatnya, Rasulullah beserta para sahabatnya sebelum melakukan hijrah fisik, beliau telah berulang kali melaksanakan hijrah qalbiyah, yaitu menjauhkan diri dari suasana kemusyrikan yang melanda masyarakat ketika itu. Mereka menjauhkan diri agar tidak terpengaruh dari suasana yang menyesatkan, dari tingkah laku kotor dan tekanan serta intimidasi. Dengan cara-cara seperti tadi, mental para sahabat dapat bertahan dan menjadi kuat, menjadi gigih dalam berjuang dan semakin teguh pendiriannya.
Oleh karena itulah, tetkala mereka harus benar-benar melakukan hijrah fisik, hati mereka tidak lagi merasa bimbang, karena hal demikian bukanlah berarti lari menyelamatkan diri, bukan pula karena takut dalam menghadapi musuh, tetapi mereka hijrah untuk mempertahankan perjuangan, untuk menyampaikan risalah islamiyah. Mereka hijrah melanjutkan hijrah qalbiyah yang sebelumnya telah pernah mereka lakukan dan sekaligus sebagai bentuk realisasi untuk menengakkan kebenaran dan melaksanakan akhlaq yang luhur.

HIJRAH DAN TATANAN MASYARAKAT BARU

Setelah sampai di Madinah, ada tiga aspek pokok yang dilakuan Rasulullah dalam rangka membangun tatanan masyarakat baru, yaitu;
Iqamat sya’airul Islam, yakni menegakkan syi’ar agama Islam. Sebagai langkah yang dilakukan Nabi ini adalah mendirikan masjid Quba sebagai tempat ibadah dan sebagai tempat mengatur dan menkoordinir kegiatan-kegiatan lainnya.
Membangun ekonomi Islam dengan mepererat persaudaraan seagama atau dikenal dengan nistilah mu’akhah al-islamiyah. Kehidupan ekonomi yang tadinya serba egois, kapitalis, diganti dengan ekonomi persaudaraan yang didasari oleh semangat sosial ukhuwah Islamiyah. Pedagang Muhajirin yang datangnya dari Mekkah disatukan dengan petani-petani Anshor Madinah untuk menegakkan susunan baru bagi tatanan perekonomian menurut ajaran Islam.
Menetapkan peraturan-peraturan dasar negara yang disabut Kitabun Nabi atau piagam tertulis dari Nabi. Para sarjana Barat menyebut piagam ini sebagai Constitution of Madina (konstitusi Madinah). Piagam inilah yang dianggap sebagai First constitution of Islam (Undang-undang negara Islam yang pertama) atau the First Written Constitution on the World (konstitusi pertama di dunia).

Selasa, 10 Juli 2012
Tag :

Contoh Ceramah Ramadhan

Contoh Ceramah Ramadhan

HAKIKAT MANUSIA DAN KEMANUSIAAN
MENURUT AL-QUR’AN

MUQADDIMAH
Dalam suasana kemajuan sains dan teknologi dewasa ini, masalah hakikat manusia dan kemanusiaan menjadi semakin aktual untuk dikaji. Urgensi kajian ini lebih terasa lagi setelah disadari bahwa pengetahuan kita sendiri tentang hakikat manusia masih sangat terbatas. Keterbatasan pengetahuan tersebut disebabkan multikompleks-nya permasalahan manusia. Selain itu, manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dihembuskan roh ciptaan Allah ke dalam dirinya. Persoalan roh adalah urusan Tuhan, sementara manusia hanya diberikan seditkit pengetahuan tentang hal itu. Kita hanya mengetahui yang bersifat lahiriah saja, tidak menjangkau hal-hal yang berisifat immaterial dan dimensi spiritual dari manusia.
Oleh karena itu, khutbah kali ini mencoba memberikan jawaban terhadap pertanyaan: Siapa manusia itu? Dan untuk apa manusia diciptakan?

HAKIKAT MANUSIA
Para ahli dari berbagai disiplin ilmu telah mengemukakan jawaban yang bervariasi tentang manusia. Pandangan ahli Ilmu Mantiq (Logika) menyatakan bahwa manusia adalah hewan yang berfikir (hayaw±n al-n±thiq), ahli Antropologi Budaya mengatakan bahwa manusia adalah makhluk budaya (homo sapiens), Sosiolog berpendapat; manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon), kaum agamawan mengatakan manusia adalah makhluk yang senantiasa bergantung kepada kekuatan ‘Supranatural’ yang ada di luar dirinya, dan kaum komunis berpandangan bahwa manusia adalah makhluk biologis dan ekonomis. Menurut golongan yang terakhir ini, manusia sebagai makhluk biologis, yang diutamakan adalah unsur materi, karena itu Tuhan yang bersifat immaterial (transenden) ditolak eksistensinya dan agama adalah candu masyarakat. Adapaun manusia sebagai makhluk ekonomis (homo economicus) maka faktor kerja dan produksilah yang merupakan hakikat manusia.
Pandangan yang dikemukakan di atas hanya memberikan gambaran sebagian dari potensi dan kemampuan yang dimiliki manusia, dan belum memberikan gambaran secara utuh siapa sesungguhnya yang dimaksud manusia.
Al-Qur’an berbicara tentang manusia dimulai dari QS. al-`Alaq [96], surah yang pertama diturunkan Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. Dalam surah itu, Allah tiga kali menyebut kata al-Ins±n (manusia), yang mencerminkan gambaran umum tentang manusia; pertama, bahwa manusia tercipta dari `alaq (segumpal darah); kedua, bahwa hanya manusia yang dikaruniai ilmu; dan ketiga, bahwa manusia memiliki sifat sombong yang bisa menyebabkan lupa kepada sang Pencipta.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Karakter umum manusia pada surah yang pertama ini diperjelas dan dirinci pada surah-surah yang turun kemudian, seperti QS. al-Muminun [23]: 12-14:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ(12)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ(13)ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ(14)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang tersimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging. Kemudia Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”
Allah sengaja berulangkali mengungkapkan bahwa manusia tercipta dari tanah, air yang memancar di antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan, dari segumpal darah, dan seterusnya, dengan tujuan untuk mengingatkan manusia atas kelemahan dan kehinaannya, dan agar manusia tidak arogan dan sombong, melebihi kemampuannya. Karena, dari asal kejadian yang bersifat material inilah manusia cenderung berprilaku dan memilki sifat-sifat rendah, antara lain:
i) Melampaui batas, QS. al-`Alaq [96]: 6-7
كلا إن الإنسان ليطغى أن رءاه استغنى
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampau batas, karena dia melihat dirinya serba cukup”.
ii) Bersifat tergesa-gesa, QS. al-Isr±’ [17]: 11
... وكان الإنسان عجولا
“… dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”. Manusia yang memiliki sifat ini tidak sabar dalam menghadapi sesuatu , ia selalu terburu-buru, ingin cepat-cepat memetik hasil, meskipun itu harus ditempuh dengan jalan yang tidak halal.
iii) Suka berkeluh kesah, QS. al-Ma`±rij [70]: 19
إن الإنسان خلق هلوعا
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir”. Manusia, jika mendapat kesulitan mengeluh, tetapi jika ia mendapat keberuntungan ia bakhil.
iv) Suka membantah, QS. al-Kahfi [18]: 54
... وكان الإنسان أكثر شيئ جدلا
“… dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah”. Manusia terkadang lebih banyak memper-turutkan kehendak hawa nafsunya daripda mengikuti bimbingan wahyu Ilahi, padahal nafsu ammarah itu mendorong manusia berbuat maksiat.
v) Ingkar dan tidak berterima kasih kepada Tuhan, QS. al`Adiyat [100]: 6
إن الإنسان لربه لكنود
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya” Nikmat dan anugrah yang diperoleh manusia tidak pernah memberikan kepuasan pada dirinya. Ia tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Alah kepadanya, padahal nikmat dan anugrah Ilahi itu tidak ternilai banyaknya.
Apabila manusia memperturutkan prilaku dari ayat-ayat tersebut di atas maka ia akan semakin jauh dari hakikat kemanusiaannya.
Al-Qur’an, di samping menunjukkan sifat-sifat kelemahan yang dimiliki manusia, yang dapat meruntuhkan derajat kemanusiaannya ke tempat yang rendah dan tercela, juga menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki potensi dan kemampuan untuk menempati tempat yang tertinggi dan terpuji di antara makhluk ciptaan Allah.
Al-Qur’an memberikan pujian kepada manusia, seperti pernyataan Allah dalam QS. al-T³n [95]: 4
لقد خلقنا الإنسان فى أحسن تقويم
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Kemudian Allah menegaskan kemuliaan makhluk manusia dibanding makhluk-makhluk lainnya, seperti pernyataan Allah dalam QS. al-Isra±’ [17]: 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي ءَادَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا(70)

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adan. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Apabila manusia memelihara dan mengembangkan potensi positif yang dimilikinya maka ia akan menemukan jatidirinya.
UNTUK APA MANUSIA DICIPTAKAN?
Manusia diciptakan bukan untuk hidup sekehendaknya, bukan pula untuk makan, hura-hura, dan mencari kebebasan tanpa batas. Tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan ridha Allah (mardhatillah), sebagaimana pernyataan Allah dalam QS. al-An`am [6]: 162
قل إن صلاتى ونسكى ومحياى ومماتى لله رب العالمين.
“Katakanlah,”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam”.
Dalam mencari ridha Allah, manusia diwajibkan untuk menghambakan diri kepada-Nya dalam segala aktivitas yang dilakukannya. Tugas suci inilah yang disebut ibadah dalam pengertian umum dan sekaligus sebagai tujuan diciptakannya manusia. QS. adz-Dzariyat [51]: 56 menyebutkan:
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
Dalam mengemban tugas pengabdian, manusia diberi peran oleh Allah swt. sebagai khalifah di muka bumi ini. Peran kekhalifahan ini dalam rangka memelihara, melestarikan dan memakmurkan jagad raya ini.
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi”. QS. al-An`±m [6]: 165,

KHATIMAH
Hakikat manusia menurut al-Qur’an adalah makhluk ciptaan Allah yang memilki 2 (dua) dimensi; dimensi meterial dan dimensi spiritual. Dengan dimensi material (tanah), manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam seperti makhluk-makhluk lain, sehingga ia butuh makan, minum, hubungan seksual, dan sebagainya. Dimensi ini mengantar manusia ke alam kehidupan yang kurang bermakna, cenderung menjadi makhluk yang amat aniaya, ingkar nikmat, banyak membangkang, tidak sabar, dan bersifat keluh-kesah. Sebaliknya, dengan dimensi spiritual (roh) , manusia diantar untuk cenderung kepada keindahan, kebenaran, pengorbanan, kesetiaan, penghambaan kepada Allah, dan sebagainya. Dimensi ini membawa manusia kepada suatu realitas mengaktualkan posisinya sebagai `abid (hamba) dan khalifah menuju kepada Yang Maha Sempurna.
Dengan memenuhi kebutuhan hidup manusia berdasarkan pada kedua dimensi tersebut sesuai dengan petunjuk Ilahi, maka manusia akan menemukan hakikat kemanusiaannya.

Contoh Ceramah Ramadhan

GINCU, GARAM DAN SUSU
Ketiga benda tersebut di atas sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, khususnya bagi kaum perempuan. Gincu, sekarang orang menyebutnya lipstik, adalah salah satu jenis kosmetika yang dipergunakan oleh sebahagian kaum perempuan sebagai penghias bibir. Warnanya umumnya merah, atau warna lain yang lebih mencolok dan gampang terlihat. Menurut penuturan perempuan yang sering memakai gincu, rasanya tidak ada. Gincu hanya menempel di bibir pemakainya, tidak mempunyai rasa. Walaupun nampak jelas ketika dipakai akan tetapi sipemakainya sendiri justru tidak dapat melihat bagaimana gincu itu di bibirnya ketika dipandang orang.
Garam, merupakan pemberi rasa asin terhadap makanan, hasil olahan dari air laut. Harganya murah, akan tetapi sangat menentukan lezat-tidaknya suatu hidangan. Garam ketika digunakan larut bersama makanan. Rasa asinnya baru terasa apabila makanan yang dibumbuhi garam tersebut dicicipi.
Perempuan ketika berdandan boleh tidak memakai gincu, akan tetapi setiap orang kalau memasak harus membumbuhi masakannya dengan garam. Ringkasnya gincu sebenarnya hanya pelengkap, sedangkan garam penentu rasa.
Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang di antara kita ada yang berbuat dan melakukan aktifitasnya mengambil filsofi dari gincu dan garam! Yang berfilosofi garam, mengutamakan dan mengedepankan aspek formalitas dan popularitas dalam setiap aktifitasnya. Semua yang dia lakukan baik secara pribadi maupun kolektif harus dapat dilihat dan disaksikan oleh orang banyak sekedar untuk memperoleh pengakuan dan atau pujian, kendatipun kemudian hanya sebatas show, tidak dapat memberi manfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang yang melihatnya. Yang penting apa yang dia lakukan dapat dilihat dan disaksikan orang! Celakanya, banyak orang yang justru terbuai oleh warna-warna ‘gincu’ yang ditonjolkan oleh orang.
Sebaliknya, hanya sedikit di antara kita yang rela memegang filosofi garam. Orang yang memegang filosofi garam, dalam berbuat dan beraktifitas mementingkan manfaat apa yang dilakukan baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Berbuat bagi orang tipe ini tidak harus diketahui oleh orang lain, bahkan kalau perlu merahasiakan identitas dalam berbuat baik, tetapi yang penting baginya ialah azaz manfaat pada setiap perbuatannya.
Dalam bahasa agama Islam, orang yang berfilosofi gincu biasa disebut riya’, yaitu sikap mental pamer dan ingin dipuji. Orang seperti ini sangat berbahaya, berbuat hanya menginginkan popularitas dan mengabaikan manfaat dari apa yang diperbuatnya. Allah swt. Dalam salah satu hadisnya, Nabi Muhammad saw. menegaskan bahwa sikap mental riya merupakan salah satu bentuk syirik:
‘’Sesungguhnya yang amat kutakuti dari segala hal atas kalian ialah syirik kecil. Para sahabat bertanya. “Apakah syirik kecil itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: “Riya. Allah azza wa jalla akan berkata kepada orang-orang yang riya kelak di hari kiamat: Pergilah kamu sekalian kepada apa yang kamu jadikan bahan riya di dunia. Lihatlah apa yang kamu semua memperoleh balasan dari mereka yang kepadanya kamu memamerkan amalanmu?. Hadis riwayat Ahmad dan al-Baihaki.
Orang yang berfilosofi garam, dalam istilah agama Islam disebut ikhlas, yaitu seseorang yang senantiasa berbuat berangkat dari motif yang lurus tanpa mengharapkan imbalan dari hasil perbuatannya. Biasanya orang tipe ini ketika berbuat kebajikan selalu berupaya menyembunyikan perbuatannya, paling tidak mereka tidak menonjolkan perbuatannya itu, namu perbuatan tersebut memberi manfaat baik terhadap dirinya maupun terhadap masyarakat.
Agama kita menginginkan agar umatnya berperilaku sebagaimana filosofi garam, yaitu tidak menampakkan diri dalam setiap aktifitasnya, tetapi yang lebih penting manfaatnya. Bahkan penilaian Allah terhadap perbuatan kita bukan pada apa yang tampak, melainkan motif yang ada dibalik perbuatan kita itu. Nabi Muhammad saw. dalam hadisnya meyebtukan:
Sesungguhnya Allah swt. tidak menilai terhadap fisik dan penampilanmu, melainkan kepada hati (niat) dan perbuatanmu. Hadis riwayat Imam Muslim.
Dari hadis ini nampak jelas bahwa Allah tidak menilai aspek formalitas pada perbuatan kita, melainkan motif dasar munculnya perbuatan tersebut serta manfaat perbuatan tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sudah muak dengan penampilan orang-orang dan sekelompok orang yang sepintas bagai pahlawan, namun kepahlawanannya tidak lebih dari penampilan gincu; terlalu banyak teori, konsep dan program yang dikemukakan sekedar untuk menarik simpati publik namun tidak ada realisasi. Orang berperilaku seperti ini tidak menyadari bahwa formalisasi dan publikasi yang berlebihan tentang ‘kebajikan’ seseorang justru mengaburkan dan menghilangkan rasa (manfaat) dari suatu perbuatan. Hanya sesaat dan tidak memberi rasa apa-apa, dan hanya sedikit orang yang mau berbuat kebajikan tanpa diketahui oleh orang lain.
Filosofi Susu
Susu, untuk kelompok elit (Ekonominya terliLIT, atau Ekonominya suLIT) masih dipandang sebagai barang elit (mewah). Warnanya putih. Biasanya dicampurkan bersama minuman atau makanan ekstra. Di minuman atau makanan mana saja yang diberi susu, akan tampak warna dan rasa susu itu, sekalipun sedikit.
Susu mungkin salah satu benda yang mewakili sikap pertengahan antara filosofi gincu dan filosofi garam; semua orang menyebut susu itu enak! Makanan dan minuman kalau diberi susu rasanya makin nikmat! Kalau bercampur dengan makanan atau jenis minuman ia tidak kehilangan identitasnya, melainkan turut mempengaruhi warna makanan/minuman di mana ia ditambahkan. Itulah susu, selain keberadaannya bisa nampak, juga dapat menambah rasa!
Alangkah indahnya hidup ini, apabila umat Islam bisa bermental susu; bisa memperlezat kehidupan, mempengaruhi masyarakat dengan warna dan rasanya, minimal mudah menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan tanpa harus kehilangan identitas, dan yang paling penting keberadaannya benar-benar dirasakan!
Al-Qur’an tidak menafikan bahwa mental susu itu memiliki pengaruh positif, yaitu agar dapat diikuti oleh orang lain sekaligus mengajak orang lain gemar melakukan sebagaimana yang telah dilakukannya, walaupun dengan memperlihatkan amalan itu dapat mendekatkan kepada bahaya riya. Oleh sebab itu, Allah swt. memberi pujian terhadap mental garam dan mental susu, dengan mendahulukan mental susu dalam firman-Nya:
Jikalau kamu menampakkan sedekah-sedekahmua, maka itulah yang terbaik. Tetapi jika kamu semua menyembunyikannya dan kamu berikan kepada fakir miskin, maka itu lebih baik bagimu. QS. al-Baqarah (2): 271.
Agama Islam adalah agama kemanusiaan. Oleh karena itu, semua ketentuan agama yang berbentuk perintah dan larangan semuanya bermuara pada kepentingan manusia. Dengan demikian semua perbuatan kebajikan pun harus dapat memberi manfaat kepada manusia dan bagi kepentingan kemanusiaan. Kita bisa berbuat atas dasar agama tanpa harus memamerkan apatah lagi mempublikasikan perbuatan baik tersebut. Perbuatan kita pun bisa dirasakan oleh orang lain tanpa harus mengetahui siapa yang telah melakukannya.
Memang ada hal-hal tertentu yang memungkinkan seseorang untuk memperlihatkan (mempublikasikan) perbuatannya, yaitu untuk menjadi contoh dan toladan bagi orang yang menyaksikannya. Bila suatu ketika kita berbuat memperlihatkan perbuatan kita kepada orang lain dengan niat agar menjadi contoh, maka kita telah membuat satu sunnah (tradisi kebaikan). Yang demikian lebih baik ketimbang merahasiakannya. Sehubungan dengan perbuatan kebajikan yang diperlihatkan kepada orang lain dengan maksud agar dijadikan contoh, Nabi Muhammad saw. mengatakan:
Barang siapa yang melakukan suatu sunnah (tradisi perbuatan kebaikan atau keburukan), maka ia akan memperoleh ganjaran (kebaikan atau keburukannya) dan (ganjaan kebaikan atau keburukan) bagi setiap orang yang mengikuti tradisi yang telah diperlihatkannya. Hadis riwayat Muslim.
Wallahu A’lam bi al-Sawâb.

Contoh Ceramah Ramadhan



DIMENSI TAUHID DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Manusia terdiri dari dua dimensi, yaitu jasmani dan ruhani, raga dan jiwa, atau badan dan ruh. Kedua unsur tersebut memiliki peranan yang sangat penting bagi keberadaan dan kehidupan manusia. Namun demikian, dalam tasawuf ruh mempunyai kelebihan tersendiri dibanding dengan badan, karena ruh diyakini memiliki unsur ketuhanan. Menurut para sufi, materi ruh manusia berasal dari ruh Tuhan sendiri, sesuai dengan firman Allah yang terdapat pada QS. al-¦ijr [15]: 29, sebagai berikut:
فإذا سويته ونفهت فيه من روحى .....
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku…” (QS. al-¦ijr [15]: 29).
Pada awal dari eksistensinya, ruh berada di alam azali, yaitu suatu alam yang merupakan awal keberadaan. Pada saat ini ruh berada bersama dengan Tuhan Sang Pencipta dengan segala sifat-sifat kebaikan-Nya. Sebagai Yang Maha Pencipta, Ia juga bersifat Maha Suci, yang artinya tiada sesuatu yang merupakan noda ada pada-Nya. Sementara itu, karena bersama dengan Tuhan Yang Maha Suci, maka mestilah ruh juga berada dalam kesucian. Artinya bahwa ketika itu ruh hanya mengenal Tuhan dan sifat-sifat yang dimiliki. Tidak ada sesuatu yang diketahui selain Tuhan. Sehingga seluruh perhatian ruh hanya tertuju kepada Tuhan dan tidak kepada yang lainnya. Inilah kebahagiaan, kedamaian, dan kenikmatan yang dirasakannya ketika berada bersama dengan Tuhan Yang Maha Suci. Pada fase ini semua ruh mengakui dan telah bersaksi bahwa hanya Allah semata yang menjadi Tuhan mereka. Tak satupun dari ruh-ruh itu yang mengatakan adanya Tuhan yang lain atau yang mengakui dirinya tak bertuhan. Semua sepakat bahwa Allah adalah Tuhan mereka Yang Esa. Ikrar para ruh itu telah diabadikan dalam al-Qur’an pada surah al-A`r±f [7]: 172, sebagai berikut:
...وأشهدهم على أنفسهم ألست بربكم قالوا بلى شهدنا ....
“… dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS. al-A`r±f [7]: 172).
Pada saat tahap selanjutnya dari keberadaan yang dilalui tiba, ruh harus meninggalkan alam azali untuk ditiupkan ke dalam janin yang berada dalam rahim atau kandungan seorang wanita. Kemudian, setelah sampai waktunya, lahirlah ia ke alam dunia yang merupakan fase ketiga dari kehidupannya. Inilah fase terpenting dari keberadaannya. Sebab pada tahap inilah, ruh akan ditentukan bagaimana kehidupan yang akan dialami pada fase-fase yang akan datang. Di alam dunia ini, ruh yang telah masuk ke dalam badan manusia mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan diri dengan memotifasi jasmani dalam melakukan tindakan-tindakan yang terpuji agar ia mendapat pahala dari kebaikannya, atau sebaliknya justru berbuat yang tidak baik dan melanggar aturan Ilahi, sehingga kelak akan mendapat balasan yang setimpal, baik pada waktu berada di dunia maupun di alam selanjutnya.
Sejak keberadaannya di alam dunia, ruh mulai mengenal materi-materi di sekitarnya selain Tuhan. Pada pengenalannya itu, ia mengetahui bahwa sebagian dari benda-benda tersebut dapat memberikan kenikmatan atau kesenangan pada jasmaninya. Pada tahap ini semua ruh kemungkinan besar akan terpesona dan terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat keduniawian tersebut, sehingga ia terperosok untuk hanya memikirkan dan menikmati kesenangan duniawi. Hal ini pada giliran selanjutnya akan menyebabkan ruh melalaikan Tuhannya dan perhatiannya hanya terpusat pada materi yang membawa kesenangan jasmani. Kondisi seperti ini, dalam ajaran tasawuf disebut ruh yang telah terkotori oleh kenikmatan duniawi. Keadaan tersebut akan mengakibatkan ia berada jauh dari Tuhan Yang Maha Suci. Ia tidak lagi dapat mendekatkan diri disebabkan kotoran duniawi yang menjadi perhatiannya.
Ketika seseorang akan memeluk Islam, secara sadar ia diwajibkan mengucapkan ikrar syahadat. Pada dasarnya syahadat yang pertama (Syahadat Tauhid) yang berisi kesaksian kepada Tuhan Yang Esa adalah untuk mengingatkan kembali pada janji yang telah dibuat pada masa azali. Syahadat itu seolah-olah merupakan suatu teguran yang bila diungkap akan menjadi pertanyaan mengapa yang telah berjanji untuk bertuhan hanya kepada Allah, kini ia dapat mengakui pula selain Dia sebagai tujuan ibadah, tempat minta tolong, tempat mencari berkah, dan lain sebagainya. Selain itu, ikrar tersebut juga untuk mengingatkan ruh manusia bahwa ia pada masa itu adalah dalam keadaan suci, yaitu hanya kepada Tuhan semata pusat perhatiannya tertuju, dan bukannya kepada kesenangan serta kenikmatan duniawi seperti saat berada di dunia, yang telah membawanya lupa akan asal dan tempat kembali kelak. Dengan Syahadat Tauhid, ruh telah diajak untuk kembali kepada keadaan semula, yaitu dalam kesucian. Ikrar tersebut dimaksudkan untuk memotivasi ruh agai ia dapat memusatkan kembali perhatiannya kepada Tuhan, dan tidak hanya tertuju kepada benda-benda duniawi yang tidak langgeng.
Syahadat Tauhid juga merupakan peringatan bahwa tujuan jangka panjang dari kehidupan manusia adalah bersatu bersama dengan Tuhan. Dalam teori sufisme kebersamaan dengan Allah itu dapat mengambil bentuk Ittihad dan Hulul. Yaitu bersatunya ruh bersama dengan Tuhan. Peristiwa ini merupakan suatu kenikmatan dan kebahagiaan yang luar biasa bagi ruh. Dalam suasana demikian, ruh sebenarnya kembali kepada keadaan semula seperti ketika berada pada alam azali dahulu.
Ruh akan dapat berada dalam suasana Ittihad atau Hulul, bila ia dapat mensucikan dirinya dari segala kotoran duniawi terlebih dahulu. Ia harus memisahkan dirinya dari segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah yang bersifat materi. Yang ada dalam perhatiannya hanya Tuhan, dan Ia semata yang menjadi pusat tujuan, sehingga yang lain terasa seolah menjadi tidak ada. Inilah tingkat atau suasana pembersihan jiwa, atau yang dikenal dengan tazkiyatun nafs. Tuhan itu Maha Suci. Tidak mungkin sesuatu dapat berada bersama dengan-Nya, kecuali bila ia dalam keadaan suci pula. Karena untuk bersama dengan Allah, ruh mesti mensucikan diri terlebih dahulu dari hal-hal yang tidak baik dan kotoran duniawi. Bila upaya ini berhasil, maka ruh manusia akan menjadi bersih, suci, dan berada dalam ketenangan dan kedamaian. Ketika itu layaklah ruh untuk kembali kepada Tuhan, sebagaimana ajakan yang diungkapkan dalam QS. al-Fajr [89]: 27-28, sebagai berikut:
ياأيتها النفس المطمئنة. ارجعى إلى ربك راضية مرضية.
“Wahai jiwa (ruh) yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan tulus dan diridhai”. (QS. al-Fajr [89]: 27-28).

NASEHAT UNTUK KAUM MUSLIMIN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah
(mufti agung Saudi ‘Arabia)
 
بسم الله والحمد لله وصلى الله على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه، أما بعد:
Sesungguhnya aku menasehatkan kepada saudaraku-saudaraku kaum muslimin di mana pun berada terkait dengan masuknya bulan Ramadhan yang penuh barakah tahun 1413 H ini [1] dengan taqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, berlomba-lomba dalam seluruh bentuk kebaikan, saling menasehati dengan al haq, dan bersabar atasnya, at-ta’awun (saling membantu) di atas kebaikan dan taqwa, serta waspada dari semua perkara yang diharamkan Allah dan dari segala bentuk kemaksiatan di manapun berada. Terlebih lagi pada bulan Ramadhan yang mulia ini, karena ia adalah bulan yang agung. Amalan-amalan shalih pada bulan itu dilipatgandakan (pahalanya), dosa dan kesalahan akan terampuni bagi siapa saja yang berpuasa dan mendirikannya (dengan amalan-amalan kebajikan) dengan penuh keimanan dan rasa harap (akan keutamaan dari-Nya), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan rasa harap, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Al Bukhari 2014 dan Muslim 760)
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنُ.
Jika telah masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu Al Jannah akan dibuka, pintu-pintu Jahannam akan ditutup, dan para syaitan akan dibelenggu. (HR. Al Bukhari 1899 dan Muslim 1079)
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّيْ صَائِمٌ.
Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa. (HR. Al Bukhari 1904)
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ، تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ، فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ عِنْدَ اللهِ أَطْيَبُ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Semua amalan anak Adam untuknya, setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya, kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku, Aku yang akan membalasnya. Karena seorang yang berpuasa telah meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena Aku. Bagi seorang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan: gembira ketika berbuka, dan gembira ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut seorang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih wangi daripada minyak wangi misk. (HR. Al Bukhari 1904 dan Muslim 1151)
Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepada para shahabatnya dengan masuknya bulan Ramadhan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka:
أتاكم شهر رمضان شهر بركة، ينزل الله فيه الرحمة، ويحط الخطايا، ويستجيب الدعاء، ويباهي الله بكم ملائكته ، فأروا الله من أنفسكم خيرا ؛ فإن الشقي من حرم فيه رحمة الله
Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh barakah. Allah menurunkan padanya rahmah, menghapus kesalahan-kesalahan, mengabulkan do’a, dan Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya, maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan dari diri-diri kalian, sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang diharamkan padanya rahmat Allah. (Dalam Majma’ Az-Zawa`id Al-Haitsami menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir)
Dan beliau ‘Alaihish Shalatu Wassalam bersabda:
من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل ، فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه
Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan yang haram dan mengamalkannya, ataupun bertindak bodoh, maka Allah tidak butuh dengan upaya dia dalam meninggalkan makan dan minumnya. (HR Al Bukhari dalam Shahihnya).
Hadits-hadits tentang keutamaan bulan Ramadhan dan dorongan untuk memperbanyak amalan di dalamnya sangatlah banyak.
Maka aku juga mewasiatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin untuk istiqmah pada siang dan malam-malam bulan Ramadhan dan berlomba-lomba dalam segala bentuk amalan kebaikan, di antaranya adalah memperbanyak qira’ah (membaca) Al Qur’anul Karim disertai dengan tadabbur (upaya mengkajinya) dan ta’aqqul (upaya memahaminya), memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istighfar, serta memohon kepada Allah Al Jannah, berlindung kepada-Nya dari An Nar, dan do’a-do’a kebaikan yang lainnya.
Sebagaimana aku wasiatkan juga kepada saudara-saudaraku untuk memperbanyak shadaqah, membantu para fakir miskin, peduli untuk mengeluarkan zakat dan menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya, disertai juga dengan kepedulian untuk berdakwah ke jalan Allah subhanahu, memberikan pengajaran kepada orang jahil, dan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang lembut, hikmah, dan metode yang baik, disertai juga dengan sikap hati-hati dari segala bentuk kejelekan, dan senantiasa bertaubat dan istiqmah di atas al-haq dalam rangka mengamalkan firman-Nya subhanahu:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An Nur: 31)
Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istioqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada pula berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni Al Jannah, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Al Ahqaf: 13-14)
Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq bagi semuanya kepada perkara-perkara yang diridhai-Nya, dan mudah-mudahan Allah melindungi semuanya dari kesesatan (yang disebabkan) fitnah dan gangguan-gangguan setan. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia.
————————————————————————————————
[1] Nasehat ini disampaikan pada 1413 H. namun karena isi nasehat ini tidak pernah kadaluwarsa dan senantiasa relevan maka kami tampilkan kembali meskipun sudah berlalu sekitar 19 tahun yang lalu

—————————————


Pengantar Ringkas Fikih Ramadhan oleh Al Ustadz Muhammad Na’im Lc

Pembahasan Fikih Puasa dari Kitab Puasa Shahih Bukhari oleh Al Ustadz Dzulqarnain

05 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (14.6MB)05 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 14.6MB, Zip, 29th May 2009
06 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (9.2MB)06 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 9.2MB, Zip, 29th May 2009
07 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (10.7MB)07 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 10.7MB, Zip, 29th May 2009
10 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (13.9MB)10 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 13.9MB, Zip, 29th May 2009
11 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (8MB)11 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 8MB, Zip, 29th May 2009
12 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (8.7MB)12 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 8.7MB, Zip, 29th May 2009
13 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (3.8MB)13 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 3.8MB, Zip, 29th May 2009
14 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (10.1MB)14 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 10.1MB, Zip, 29th May 2009
15 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (15.9MB)15 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 15.9MB, Zip, 30th May 2009
16 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (7.5MB)16 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 7.5MB, Zip, 30th May 2009
17 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (8.9MB)17 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 8.9MB, Zip, 30th May 2009
18 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (2.6MB)18 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 2.6MB, Zip, 30th May 2009
19 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip (8.9MB)19 Fiqh Puasa Shohih Bukhori.zip, 8.9MB, Zip, 30th May 2009

Pembahasan Kitab Munakholah Nunniyah karya Syaikh Muroodi Sukry oleh Al Ustadz Askary Al Bugisi

07._BAB._Zakaatul_Fitr_140204_Qc-Ust_Asykari.zip (2.8MB) 07._Bab_Zakaatul_Fitri Al Ustadz Asykari.zip (2.8MB, 14th January 2010)

Bedah Buku Panduan Puasa Ramadhan dan Indahnya Shalat Malam plus Tanya Jawab dan ebook gratis oleh Al Ustadz Dzulqarnain


Bedah Buku Keajaiban Lailatul Qadr Malam Seribu Bulan oleh Al Ustadz Dzulqarnain


Pembahasan Kitab Durarul Bahiyah Dauroh Fiqh Nasional Makassar I oleh Al Ustadz Dzulqarnain

Kajian Seputar Haidh dan Puasa bersama Al Ustadz Ibnu Yunus Makassar

lebih lengkapnya di Lebih dari 50 MB)” /> Fiqih-Haid-dan-Nifas (Lebih dari 50 MB, 27th June 2011)

Kajian Seputar Puasa bersama Asatidz Jakarta dan sekitarnya

Fikih Ramadhan Untuk Muslimah oleh Al Ustadz Ali Basuki

Ebook atau Buletin Seputar Puasa Ramadhan, Shalat Tarawih, Puasa Syawal

Fatwa-Syakh-Muqbil-Ramadhan.zip (43.8KB)Fatwa Syakh Muqbil Ramadhan.zip, 43.8KB, Zip, 15th August 2009
tuntunanramadhanV1.2.zip (84.5KB)Tuntunan Ramadhan V1.2.zip, 84.5KB, Zip, 15th August 2009
SeputarTarawihDanWitir.zip (66.1KB)Seputar Tarawih Dan Witir.zip, 66.1KB, Zip, 15th August 2009
Link di bawah ini menuju artikel yang sama
persiapan ramadhan, ceramah bulan ramadhan, ceramah ramadhan, persiapan puasa, materi ceramah ramadhan, ceramah bulan puasa, persiapan puasa ramadhan, PERSIAPAN BULAN RAMADHAN, kumpulan ceramah ramadhan 2010, ceramah puasa, persiapan ramadhan 2010, kajian ramadhan, kumpulan ceramah bulan ramadhan, persiapan romadhon, bulan ramadhan, materi puasa ramadhan, fiqih puasa ramadhan, materi pondok romadhon, kumpulan ceramah, kumpulan pidato bulan ramadhan,
sumber :

Contoh Pidato Menyambut Bulan Ramadhan tentang Keutamaan Ramadhan

Berikut Contoh naskah pidato mengenai keutamaan Bulan Ramadhan yang sangat tepat untuk kultum dan ceramah anda.

Contoh Pidato tentang keutamaan Bulan Ramadhan

Salam 

Marhaban yan ramadhan

Alhadulillah, Marilah kita panjatkan segala puji atas anugrah yang sangat besar dari tuhan atas nikmat Bulan Ramadhan yang kembali memberikan kita kesempatan untuk menjumpai lagi, Sholawat dan salam kita haturkan pada junjungan kita nabi agung muhammad SAW ynag telah membawa kita dari zaman jahiliah ke zaman penuh dengan barkah ilmu dari beliau ini.

Marhaban Ya Ramadhan

Bulan Ramadhan kembali kita jumpai, marilah dari sana kita gali sedalam dakamnya tentang semua keutamaan yang ada di Bulan Ramadhan ini.

أُعْطِيَتْ أمتي خمس خصال في رمضان لم تُعْطَهُنَّ أمة من الأمم قبلها : خلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك , وتستغفر لهم الملائكة حتى يفطروا , ويزين الله كل يوم جنته ويقول : يوشك عبادي الصالحون أن يلقوا عنهم المؤونة والأذى ويصيروا إليك , وتصفد فيه مَرَدَة الشياطين فلا يخلصون إلى ما كانوا يخلصون إليه في غيره , ويغفر لهم في آخر ليلة " , قيل : يا رسول الله أهي ليلة القدر ؟ قال : " لا ولكن العامل إنما يوفى أجره إذا قضى عمله

Artinya : "Diberikan kepada ummatku 5 hal pada bulan ramadhan yang tidak diberikan kepada ummat-ummat sebelumnya : bau mulut seseorang yang berpuasa lebih wangi bagi Allah dari pada wangi misik. dan malaikat-malaikat mendoakan ampunan bagi orang-orang yang berpuasa sampai mereka berbuka. dan Allah menghiasi surga-Nya setiap hari seraya berkata : mereka para hamba-hambaKu yang harus merasakan kesusahan (demi) menuju kepadamu. dan dibelenggunya gangguan-gangguan setan maka setan-setan tidak bisa lagi menyesatkan sebagaimana mereka menyesatkan pada bulan-bulan yang lainnya. dan diampuni (dosa-dosa) mereka disetiap akhir malam. dikatakan kepada Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam- : wahai Rosulullah, apakah itu lailatul qodar? beliau menjawab : tidak, akan tetapi setiap orang yang beramal diberi pahalanya kepada mereka setiap selesai mengerjakan amalannya." (HR Ahmad, Al-Bazzar dan Al-Baihaqi dengan sanad yang lemah akan tetapi memiliki saksi-saksi)

Dari Hadist di atas kita bisa menyimpulkan tentang beberapa keutamaan yang terkandung di dalam Bulan Ramadhan, Yang di antaranya:


Contoh Pidato Menyambut Bulan Ramadhan tentang Keutamaan Ramadhan
Keutamaan Bulan Ramadhan
1. Bahwa bau mulut orang yang berpuasa bagi Allah lebih wangi dari pada wangi misik. hal ini karena bau mulut disebabkan oleh amalan ketaatan yaitu puasa. akan tetapi bukan berarti seseorang yang berpuasa kemudian menyepelekan kebersihan mulutnya sehingga dapat mengganggu orang lain disekitarnya. dikarenakan bau tersebut tidak dapat dihindarkan pada waktu puasa, maka setiap orang yang berpuasa harus berusaha semaksimal mungkin agar orang disekitarnya tidak terganggu oleh bau mulutnya.

2. Bahwa para malaikat mendoakan ampunan untuk orang-orang yang berpuasa hingga mereka berbuka. dan malaikat adalah makhluk yang dimuliakan, tidak pernah melanggar perintah-perintah-Nya. dan mereka adalah makhluk yang paling utama untuk dikabulkan doanya.

3. Allah -ta'ala- menghiasi surga-Nya setiap hari agar lebih menarik bagi orang-orang yang beramal. agar lebih menyemangati mereka untuk terus mengamalkan ketaatan. karena puasa, mereka dijauhkan dari kenikmatan-kenikmatan dunia dan harus menanggung kesusahan akibat puasa. ini dilakukan dengan harapan untuk menggapai surga.

4. Bahwa setan-setan dibelenggu sehingga tidak bisa mengganggu dan menyesatkan orang-orang yang beriman sebagaimana mereka mengganggu pada bulan-bulan selainnya. karena Allah mengutamakan bulan ramadhan dengan ibadah dan ketaatan kepada-Nya. sehingga orang-orang beriman pun sibuk dengan amalan mereka.

5. Bahwa Allah mengampuni ummat ini pada tiap akhir malam. sebagaimana yang dijelaskan oleh Rosulullah SAW bahwa setiap hamba akan diberi pahalanya setiap selesai mengerjakan amalannya. berarti, pada bulan ini, setiap hamba akan diampuni jika mereka telah mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka dari berpuasa dan melaksanakan amalan-amalan yang lainnya.

Itulah beberapa Keutamaan yang terkandung Bulan Ramadhan, alangkah ruginya kita jika kita tidak bisa meraih keutamaan keutamaan yang terkandung di Bulan Ramadhan.

Marilah kita jadikan Bulan Ramadhan sebagai momentum untuk semakin mendekatkan diri kita kepada sang pencipta, agar kita mendapatkan meraih semua keutamaan Bulan Ramadhan.

Salam.

PEMROGRAMAN BERORIENTASI OBJEK

Pemrograman orientasi-objek menekankan konsep berikut:
  • Kelas — kumpulan atas definisi data dan fungsi-fungsi dalam suatu unit untuk suatu tujuan tertentu. Sebagai contoh 'class of dog' adalah suatu unit yang terdiri atas definisi-definisi data dan fungsi-fungsi yang menunjuk pada berbagai macam perilaku/turunan dari anjing. Sebuah class adalah dasar dari modularitas dan struktur dalam pemrograman berorientasi object. Sebuah class secara tipikal sebaiknya dapat dikenali oleh seorang non-programmer sekalipun terkait dengan domain permasalahan yang ada, dan kode yang terdapat dalam sebuah class sebaiknya (relatif) bersifat mandiri dan independen (sebagaimana kode tersebut digunakan jika tidak menggunakan OOP). Dengan modularitas, struktur dari sebuah program akan terkait dengan aspek-aspek dalam masalah yang akan diselesaikan melalui program tersebut. Cara seperti ini akan menyederhanakan pemetaan dari masalah ke sebuah program ataupun sebaliknya.
  • Abstraksi - Kemampuan sebuah program untuk melewati aspek informasi yang diproses olehnya, yaitu kemampuan untuk memfokus pada inti. Setiap objek dalam sistem melayani sebagai model dari "pelaku" abstrak yang dapat melakukan kerja, laporan dan perubahan keadaannya, dan berkomunikasi dengan objek lainnya dalam sistem, tanpa mengungkapkan bagaimana kelebihan ini diterapkan. Proses, fungsi atau metode dapat juga dibuat abstrak, dan beberapa teknik digunakan untuk mengembangkan sebuah pengabstrakan.
  • Enkapsulasi - Memastikan pengguna sebuah objek tidak dapat mengganti keadaan dalam dari sebuah objek dengan cara yang tidak layak; hanya metode dalam objek tersebut yang diberi izin untuk mengakses keadaannya. Setiap objek mengakses interface yang menyebutkan bagaimana objek lainnya dapat berinteraksi dengannya. Objek lainnya tidak akan mengetahui dan tergantung kepada representasi dalam objek tersebut.
  • Polimorfisme melalui pengiriman pesan. Tidak bergantung kepada pemanggilan subrutin, bahasa orientasi objek dapat mengirim pesan; metode tertentu yang berhubungan dengan sebuah pengiriman pesan tergantung kepada objek tertentu di mana pesa tersebut dikirim. Contohnya, bila sebuah burung menerima pesan "gerak cepat", dia akan menggerakan sayapnya dan terbang. Bila seekor singa menerima pesan yang sama, dia akan menggerakkan kakinya dan berlari. Keduanya menjawab sebuah pesan yang sama, namun yang sesuai dengan kemampuan hewan tersebut. Ini disebut polimorfisme karena sebuah variabel tungal dalam program dapat memegang berbagai jenis objek yang berbeda selagi program berjalan, dan teks program yang sama dapat memanggil beberapa metode yang berbeda di saat yang berbeda dalam pemanggilan yang sama. Hal ini berlawanan dengan bahasa fungsional yang mencapai polimorfisme melalui penggunaan fungsi kelas-pertama.
  • Dengan menggunakan OOP maka dalam melakukan pemecahan suatu masalah kita tidak melihat bagaimana cara menyelesaikan suatu masalah tersebut (terstruktur) tetapi objek-objek apa yang dapat melakukan pemecahan masalah tersebut. Sebagai contoh anggap kita memiliki sebuah departemen yang memiliki manager, sekretaris, petugas administrasi data dan lainnya. Misal manager tersebut ingin memperoleh data dari bag administrasi maka manager tersebut tidak harus mengambilnya langsung tetapi dapat menyuruh petugas bag administrasi untuk mengambilnya. Pada kasus tersebut seorang manager tidak harus mengetahui bagaimana cara mengambil data tersebut tetapi manager bisa mendapatkan data tersebut melalui objek petugas adminiistrasi. Jadi untuk menyelesaikan suatu masalah dengan kolaborasi antar objek-objek yang ada karena setiap objek memiliki deskripsi tugasnya sendiri.
materi terbaru klik disini
Kamis, 22 September 2011

Doa Niat Zakat Fitrah

1. Niat zakat Fitrah untuk diri sendiri

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ نَفْسِىْ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘ANNAFSII FARDHAN LILLAHI TA’AALAA
Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas diri saya sendiri, Fardhu karena Allah Ta’ala
2. Niat zakat Fitrah untuk Istri

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ زَوْجَتِيْ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘AN ZAUJATII FARDHAN LILLAHI TA’AALAA
Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas istri saya, Fardhu karena Allah Ta’ala
3. Niat zakat Fitrah untuk anak laki-laki atau perempuan

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ وَلَدِيْ… / بِنْتِيْ… فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘AN WALADII… / BINTII… FARDHAN LILLAHI TA’AALAA
Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas anak laki-laki saya (sebut namanya) / anak perempuan saya (sebut namanya), Fardhu karena Allah Ta’ala
4. Niat zakat Fitrah untuk orang yang ia wakili

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ (…..) فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘AN (……) FARDHAN LILLAHI TA’AALAA
Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas…. (sebut nama orangnya), Fardhu karena Allah Ta’ala
5. Niat zakat Fitrah untuk diri sendiri dan untuk semua orang yang ia tanggung nafkahnya

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنِّىْ وَعَنْ جَمِيْعِ مَا يَلْزَمُنِىْ نَفَقَاتُهُمْ شَرْعًا فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘ANNII WA ‘AN JAMII’I MAA YALZAMUNII NAFAQAATUHUM SYAR’AN FARDHAN LILLAHI TA’AALAA
Sengaja saya mengeluarkan zakat atas diri saya dan atas sekalian yang saya dilazimkan (diwajibkan) memberi nafkah pada mereka secara syari’at, fardhu karena Allah Ta’aala

6.Doa terima dzakat 


آجَرَكَ اللهُ فِيْمَا أعْطَيْتَ وَبَارَكَ فِيْمَا أَبْقَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُوْرًا
Artinya : “Semoga Allah SWT memberikan pahala kepadamu atas apa saja yang telah Allah memberi berkah kepadamu atas semua yang masih ada padamu dan mudah-mudahan Allah menjadikan kesucian bagimu.”..


1. PENGERTIAN DAN DASAR HUKUMNYA.
Zakat fitrah atau dikenal dengan sebutan zakat badan, zakat ru’us atau shodaqoh fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan bagi setiap muslim yang mampu, sebab menemui sebagian bulan Romadlon dan bulan Syawal. Zakat fitrah khusus disyari’ahkan kepada ummat Nabi Muhammad, dan mulai diwajibkan pada dua hari menjelang hari ‘Idul fitri pada tahun kedua Hijriah.
Mengeluarkan zakat fitrah hukumnya wajib bagi setiap orang yang telah menetapi syarat wajibnya. Dalam hadits riwayat Bukhori Muslim diriwayatkan :
“Dari Ibnu Umar RA .ia berkata, Rosululloh SAW mewajibkan zakat fitrah satu sho’ dari kurma atau satu sho’ dari gandum atas hamba/budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, yang kecil dan yang besar dari kaum muslimin. Dan Rosul memerintahkan supaya diberikan sebelum orang-orang keluar untuk sholat (Idul fitri)”
Diantara hikmah syari’ah zakat fitrah yang bisa kita ambil adalah :
1. Membersihkan jiwa dan menyempurnakan pahalanya orang yang telah berpuasa Romadlon. Dengan berzakat fitrah, nilai ibadah puasa Romadlon yang barangkali berkurang karena hal-hal yang kurang baik yang dilakukan seorang muslim,menjadi sempurna. Sebagaimana sujud sahwi yang menyempurnakan kekurangan dalam sholat. Dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah disebutkan :
“Rosululloh SAW mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan bagi yang puasa daripada sia-sia dan kekotoran mulut dan sebagai makanan bagi orang miskin. Barang siapa mengeluarkan zakat sebelum sholat, maka (termasuk) zakat yang diterima. Dan barang siapa mengeluarkan zakat setelah sholat, maka (termasuk) shodaqoh dari beberapa shodaqoh”.

Dalam riwayat lain disebutkan :
“Puasa Romadlon itu digantungkan diantara langit dan bumi, tidak diangkat puasa tersebut kecuali dengan zakat fitrah” (HR. Abu Hafs bin Syahin)
Dalam I’anah At-Tholibin dijelaskan, maksud dari ‘(tidak diangkat)’ adalah sebagai kinayah dari sempurnanya puasa (Romadlon) itu tergantung dari orang yang berpuasa, apakah mengeluarkan zakat fitrah atau tidak. Bukan berarti,tanpa zakat fitrah berarti puasa tidak diterima.
2. Membahagiakan orang-orang fakir. Rosululloh SAW  bersabda (yang artinya):
“Kayakanlah mereka (orang-orang faqir) dari kehinaan meminta­-minta dihari ini” (HR. Daruquthni dan Baihaqi)
2. SYARAT WAJIB ZAKAT FITRAH.
Seseorang wajib mengeluarkan zakat fitrah,baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang-orang yang ditanggung nafkahnya,dengan syarat sebagai berikut :
1. Islam.
2. Merdeka (bukan budak/hamba sahaya)
3. Mempunyai makanan,harta atau nilai uang “yang lebih” dari yang diperlukan pada malam dan siangnya hari raya.
Bagi orang yang tidak menetapi persyaratan diatas, tidak diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah.Sedangkan syarat wajib bagi orang yang dizakati adalah :
1. Islam.
2. Menemui waktu wajib mengeluarkan zakat fitrah,yaitu menemui sebagian bulan Romadlon dan bulan Syawal.
Lebih jauh, ‘devinisi lebih’ dalam zakat fitrah diartikan mempunyai kelebihan makanan atau materi dari yang diperlukan pada malam dan siangnya hari ‘Idil Fitri. Baik untuk keperluan dirinya sendiri ataupun orang-orang yang wajib dinafkahi. Oleh sebab itu, standar lebih tidaknya mencakup harta yang menjadi kebutuhan pokok, seperti tempat tinggal yang layak (tidak berlebihan), pakaian, alat-alat rumah tangga dan lain-lain. Artinya, apabila saat waktu wajib fitrah tidak mempunyai kelebihan makanan/materi, maka tidak wajib menjual harta pokok guna untuk membayar zakat fitrah. Dalam kitab As-Syarqowi diterangkan, apabila pada han ‘Idil Fitri tidak mempunyai kelebihan, maka tidak wajib zakat walaupun (yakin) keesokan harinya punya kelebihan, namun sunnah untuk hutang guna untuk fitrah.
3. MEKANISME DAN KADARNYA ZAKAT FITRAH.
Salah satu dari hikmah syari’ah zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang kurang mampu pada hari yang berbahagia (hari raya), dengan memberikan barang yang paling diperlukan dalam hidup, yaitu makanan.
Oleh sebab itu, makanan yang digunakan sebagai zakat fitrah distandartkan dengan makanan yang paling dominan dalam masyarakat pada masa itu. Diantara syarat-syarat benda yang digunakan sebagai zakat fitrah adalah :
a. Berupa bahan makanan.
Menurut Madzab Syafi’i, benda yang digunakan sebagai zakat fitrah harus berupa makanan (bukan uang) yang pada masa itu (tahun/hari raya) dijadikan sebagai makanan pokok oleh mayoritas orang dalam daerah tersebut.
Apabila terdapat beberapa makanan pokok yang terlaku, maka boleh menggunakan salah satu dari jenis makanan tersebut. Dan diperbolehkan menggunakan jenis makanan yang paling banyak mengandung kadar kekuatan (paling mengenyangkan).
b. Sejenis (tidak campuran)
Bahan makanan yang digunakan zakat fitrah harus sejenis, tidak campuran. Misalnya, jenis beras, jenis gandum, jenis jagung dan lain-lain. Oleh sebab itu, tidak boleh menggunakan makanan pokok campuran, seperti beras campur jagung, beras campur gandum dan lain-lain.
c. Dikeluarkan ditempat orang yang dizakati.
Apabila tempat dan standart makanan pokok dari orang yang dizakati dan orang yang menzakati berbeda, maka jenis makanan pokok yang digunakan zakat dan tempat memberikannya disesuaikan dengan daerahnya orang yang dizakati.
Misalnya. Seorang ayah yang berada didaerah Kediri dengan makanan pokok beras, menzakati anaknya yang berada di Madura dengan makanan pokok jagung. Maka makanan pokok yang digunakan untuk zakat adalah jagung dan diberikan pada golongan penerima zakat di Madura.
d. Satu sho’ untuk setiap orang.
Makanan pokok yang dikeluarkan sebagai zakat fitrah kadarnya adalah satu sho’. Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Rasulullah. Satu sho’ tersebut kurang lebih 2.5 Kg, namun ada pula yang mengatakan bahwa satu sho’ sama dengan 2.75 Kg. namun agar lebih hati-hati kita mengambil pendapat ulama yang mengatakan  satu sho’ adalah 3 Kg.
Apabila makanan/harta “yang lebih” jumlahnya kurang dari satu sho’, maka tetap wajib dikeluarkan sebagai zakat fitrah. Dan hukumnya tetap sah, walaupun kurang dari satu sho’. Sedangkan seseorang yang mempunyai kewajiban menzakat fitrahi satu keluarga, namun makanan/harta yang lebih hanya beberapa sho’ (tidak mencukupi untuk semua keluarga), maka metode pentasarufannya (pengeluaran zakatnya) adalah sesuai urutan berikut ini :
1. Atas nama dirinya sendiri /orang yang mengeluarkan zakat.
2. Atas nama anaknya yang masih kecil.
3. Atas nama ayahnya.
4. Atas nama ibunya.
5. Atas nama anaknya yang sudah besar dan dalam kondisi tidak mampu.
6. Atas nama budaknya.
4. WAKTU MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH.
Orang yang menemui (masih hidup) disebagian bulan Romadlon dan bulan Syawal wajib mengeluarkan zakat fitrah (untuk dirinya sendiri) atau dizakat fitrahi oleh orang yang berkewajiban menanggung nafkahnya atau oleh orang lain dengan seidzin orang yang dizakati.
Waktu mengeluarkan / memberikan zakat fitrah terbagi menjadi 5, yaitu :
1. Waktu jawaz.
Yaitu, mulai awal bulan Romadlon sampai awal bulan Syawal (waktu wajib). Artinya, zakat fitrah boleh diberikan sejak memasuki bulan Romadlon, bukan waktu sebelum Romadlon.
2. Waktu Wajib.
Yaitu, sejak akhir Romadlon (menemui sebagian bulan Romadlon) sampai 1 Syawal (menemui sebagian bulan Syawal). Oleh sebab itu, orang. yang meninggal setelah Magribnya 1 Syawal wajib dizakati, sedangkan bayi yang lahir setelah Magribnya 1 Syawal tidak wajib dizakati.
3. Waktu sunnah.
Yaitu, setelah fajar dan sebelum sholat hari raya Idul Fitri 1 Syawal.
4. Waktu Makruh.
Yaitu, setelah sholat Idul Fitri sampai tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawal. Mengeluarkan zaakat fitrah setefah sholat hari raya hukumnya makruh, apabila tidak ada udzur. Oleh sebab itu, apabila pengakhiran tersebut karena ada udzur, seperti menanti kerabat atau orang yang lebih membutuhkan, maka hukumnya tidak makruh.
5. Waktu haram.
Yaitu, setelah tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawal. Mengakhirkan zakat fitrah sehingga keluar dan 1 Syawal hukumnya haram apabila tanpa udzur. Jika pengakhiran tersebut karena udzur, seperti menunggu hartanya yang tidak ada ditempat, atau menunggu orang yang berhak menerima zakat, maka hukumnya tidak haram. Sedangkan status dari zakat fitrah yang dikeluarkan setelah 1 Syawal adalah qodlo’.
Selasa, 02 Agustus 2011
Tag :

Translate

Yahoo Messenger !

free counters

Pages

- Copyright © Blog teknoku -Fahruzi Yuzi- Powered by Blogger - Designed by Fahruzi Yuzi -