Rabu, 27 Juli 2011

  • Pendahuluan


  • Tulisan Pak Kisdaryono -- Issue Tech-Park dalam Revitalisasi Puspiptek -- (attachment e-mail beliau-1 Oktober 2000), diawali dengan sejumlah pertanyaan sebagai berikut:
    Pengertian "Revitalisasi" :
    • Apa PUSPIPTEK pernah vital dan kemudian vitalitas menurun, sehingga perlu revitalisasi? Faktor apa yang menyebabkan itu semua? Apa visi, misi, dan fungsi PUSPIPTEK sebagai "National Center for Research, Science, and Technology" yang ditentukan pada awal pendiriannya?
    • Apakah PUSPIPTEK dirancang sebagai TechPark, tetapi belum (pernah) mencapai tahap performance yang diharapkan, sehingga, "revitalisasi" diartikan sebagai membuat PUSPIPTEK menjadi TechPark yang operasional?
    • Apa beda pengertian National Center for Research, Science, and Tehcnology dan TechPark, dalam hal visi, misi, dan fungsinya?
    • Apakah TechPark adalah bentuk pilihan final yang akan dituju dari proses revitalisasi ini, ataukah masih bisa pilih bentuk lain?
    Kewenangan proses Revitalisasi
    • Apa yang dirasakan oleh Pemerintah sehingga PUSPIPTEK perlu di-revitalisasi? Pengertian "revitalisasi" yang mana yang dimaksud? Kearah mana revitalisasi dibawa?
    • Apa yang dirasakan oleh "warga PUSPIPTEK" sehingga PUSPIPTEK perlu di-revitalisasi? Pengertian "revitalisasi" yang mana yang dimaksud? Kearah mana revitalisasi dibawa?
    • Siapa yang ternyata, siapa yang sebaiknya, dan siapa yang seharusnya berwenang menentukan arah revitalisasi PUSPIPTEK,?
    • Pada saat warga PUSPIPTEK ditanya "Ingin punya TechPark?", mengapa jawabnya "Tidak menolak"? Apa arti jawaban seperti itu? Kalau pertanyaan yang sama diajukan ke Pemerintah, lalu apa jawabnya, dan apa arti jawaban seperti itu?
    Motivasi upaya Revitalisasi
    • Pada beberapa waktu yang lalu pak Iman Sudarwo memulai sebuah proses, kalau tidak salah namanya adalah "repositioning lembaga". Saya tidak mendengar lebih lanjut. Apakah revitalisati PUSPIPTEK adalah bagian dari upaya tersebut?
    • Saat itu pak Iman meminta masing-masing lembaga membuat analisa keadaan dan dipetakan dalam 4 kuadran dengan masing-masing "resep" pepositioning-nya, dan apakah revitalisasi itu resep yang dipilih setelah peta keadaan itu dibuat?
    • Apakah motivasi revitalisasi ini timbul karena "Pemerintah tidak mampu lagi menghidupi PUSPIPTEK seperti masa lalu, dan oleh karena itu PUSPIPTEK harus cari makan sendiri"?
    • Apakah motivasi warga PUSPIPTEK menyatakanan "tidak menolak TechPark" berarti tidak menolak "apa saja bentuk yang dituju oleh revitalisasi termasuk TechPark" (agar tetap dapat bekerja atau dapat hidup dari "revitalized new PUSPIPTEK"), atau "tidak menolak bekerja dan mensukseskan TechPark", atau apa motivasi sebenarnya? (sebab kalau TechPark ini tidak sukses, nanti harus di-revitalisasi lagi kan, dan apakah menyadari dan bertekad menerima apa yang harus dikerjakan bila TechPark itu harus sukses),
    Kalau baik warga PUSPIPTEK maupun Pemerintah telah bulat "akan mengubah PUSPIPTEK menjadi TechPark", lalu, komitmen apakah yang benar-benar akan diberikan oleh warga dan oleh Pemerintah untuk mensukseskannya? (Bukankah pada saat mendirikan PUSPIPTEK dahulu, juga ada komitmen dari dua belah fihak, tetapi ternyata saat ini PUSPIPTEK masih harus di-revitalisasi?)
    Tim Kecil telah membagi persiapan revitalisasi PUSPIPTEK ke dalam 3 tahap:
    • Tahap 1 ? merumuskan prespektif dan obyektif bersama
    • Tahap 2 ? merumuskan strategi revitalisasi PUSPIPTEK
    • Tahap 3 ? merumuskan kebijakan untuk melandasi proses revitalisasi
    PUSPIPTEK
    Perumusan prespektif dan obyektif PUSPIPTEK telah kita laksanakan berdasarkan 3 masukan: Initial objectives, stakeholder expectations, example of other tech-parks.
    Walaupun sebagian dari pertanyaan yang dilontarkan Pak Kisdarjono telah kita bahas dalam pertemuan-pertemuan perumusan prespektif dan objektif bersama PUSPIPTEK, namun pada hemat saya masih valid, menantang, dan dapat kita jadikan titik tolak untuk merumuskan apa-apa yang telah kita bahas dan sepakati bersama.
    1. Dimana Kita Saat Ini?
    2. Objektif Awal
      Presentasi Pak Benito Kodijat menjelaskan sejarah pendirian Puspiptek, sebagai berikut:
      1. Pada masa Menteri Sumitro Djojohadikusumo direncanakan memindahkan sejumlah pusat milik LIPI, BATAN, BAKOSURTANAL, LAPAN, dan BPS ke kawasan PUSPIPTEK untuk meningkatkan pelaksanaan penelitian serta pelaksanaan koordinasi kebijakan riset.
      2. Kemudian pada masa Menteri B.J. Habibie pengembangan PUSPIPTEK diperluas menuju Tech-Park yang meliputi: (1) kawasan laboratorium; (2) kawasan industri teknologi tinggi; dan (3) kampus pendidikan tinggi, khususnya untuk menunjang program paska sarjana dari berbagai perguruan tinggi; di mana perkembangannya dikaitkan dengan pelaksanaan 4 tahapan transformasi industri dan 9 wahana-industrinya yang termasuk dalam jenis industri ISIC 38.
      3. Baik pada masa Menteri Sumitro dan Menteri Habibie tidak pernah ada rencana menggabungkan laboratorium-laboratorium di lingkungan PUSPIPTEK ke dalam suatu organisasi.
    Dalam kebijakan Menteri Sumitro 5 April 1976 dinyatakan:
      • Masing-masing tetapi secara bersamaan dalam kesatuan gerak berperan sebagai wahana utama untuk pengamanan dan pelaksanaan kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berhubungan dengan Program Riset Nasional
      • Dalam pola kesatuan gerak serupa itu, lembaga-lembaga yang bersangkutan dengan kelangsungan identitas masing-masing, diharapkan merupakan komponen-komponen yang saling tujang menunjang sehingga secara bersamaan menunjukkan suatu POLA "SISTEM" KEGIATAN. Sistem, itu selanjutnya merupakan subsistem pokok dalam SISTEM NASIONAL secara menyeluruh.
    Kemudian dalam kebijakan Menteri Habibie 14 Juni 1983 dinyatakan bahwa tahapan transformasi yang pertama dan kedua dilaksanakan terutama oleh industri, sedangkan tahapan yang ke tiga dan ke-empat di laksanakan oleh PUSPIPTEK. Pada waktu itu di kawasan PUSPIPTEK rencananya akan dikembangkan laboratorium-laboratorium yang dimiliki oleh LIPI, BBPT, dan BATAN sebagai berikut:
      • Laboratorium Uji Kekuatan Statik dan Dinamik (BPPT)
      • Laboratorium Hidro, Aero&Gas Dinamika dan Vibrasi (BPPT)
      • Laboratorium Termodinamika, Motor dan Propulsi (BPPT)
      • Laboratorium Teknologi Prosesing (BPPT)
      • Laboratorium Fisika (LIPI)
      • Laboratorium Elektronika (LIPI)
      • Laboratorium Kimia (LIPI)
      • Laboratorium Kalibrasi dan Instrumentasi (LIPI)
      • Laboratorium Sumber Daya Energi (BPPT)
      • Laboratorium Metalurgi (LIPI)
      • Reaktor Riset Serba Guna dan laboratorium pendukungnya (BATAN)
    Berdasarkan presentasi Pak Benito dan meninjau perkembangan PUSPIPTEK sampai pada saat ini, ada sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan prespektif dan objektif PUSPIPTEK:
        1. Visi kedua menteri yang menginisiasi pembangunan PUSPIPTEK menginginkan keberadaan laboratorium-laboratorium di PUSPIPTEK dapat secara bersama-sama (synergic) menjadi suatu subsistem pokok dalam sistem nasional
        2. Salah satu tujuan dalam Kebijakan Strategis Pembangunan Iptek Nasional yang ditetapkan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi pada saat ini, adalah meletakkan kelembagaan Iptek (termasuk PUSPIPTEK) agar dapat memiliki posisi strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional (Reposisi Kelembagaan Iptek)
        3. Sejak Menteri Habibie, PUSPIPTEK di arahkan menjadi Tech-Park, walaupun sampai saat ini yang telah established baru kawasan laboratoriumnya. Menteri Habibie pernah memberikan pengarahan agar perkembangan Tech-Park PUSPIPTEK dikaitkan dengan Techno-Park BSD sebagai kawasan industri dan ITI sebagai kawasan pendidikan tinggi. Namun sampai saat ini belum diperoleh suatu konsep yang mengikat perkembangan ketiga kawasan tersebut sehingga secara menyeluruh dapat menjadi tech-park yang terpadu.
        4. Informasi dari Direksi proyek PUSPIPTEK menunjukkan bahwa di kawasan laboratorium telah dilakukan investasi melalui pinjaman luar negeri sekitar US $ 1.816.000.000,- dengan perincian sebagai berikut:
    • BPPT - $ 1.497.500.000
    • LIPI - $ 24.500.000
    • BATAN - $ 294.000.000
    Sedangkan SDM yang dimiliki lembaga-lembaga di kawasan Puspiptek pada saat ini sekitar S0/D3 ? 375, S1 - 892, S2 ? 378, dan S3 ? 128, dengan perincian sebagai berikut:
    • BPPT - S0/D3 - 61, S1 - 268, S2 - 136, S3 - 45
    • LIPI - S0/D3 - 79, S1 - 140, S2 - 92, S3 - 35
    • BATAN - S0/D3 -204, S1 - 410, S2 - 126, S3 - 46
    • PUSARPEDAL - S0/D3 - 18, S1 - 46, S2 - 1, S3 - 1
    • Proyek PPIT - S0/D3 - 13, S1 - 28, S2 - 23, S3 - 1
    Terlepas dari apakah istilah "revitalisasi" yang dipergunakan tepat atau tidak (apakah pernah vital? Kemana arah revitalisasi?), ada sejumlah pertanyaan fundamental yang perlu kita jawab bersama:
        1. Apakah visi dari menteri yang menginisiasi PUSPIPTEK dan harapan Menegristek sekarang telah terpenuhi oleh masyarakat PUSPIPTEK?
        2. Apakah dengan investasi dan SDM yang sebesar itu, PUSPIPTEK telah secara optimal berperan bagi pembangunan?
        3. Apabila ditinjau dari kedua pertanyaan di atas, apakah kerja sama antara pusat-pusat yang ada di PUSPIPTEK telah menghasilkan sinergi secara optimal, dan menjadi praktek yang melembaga atau masih bersifat ad-hoc?
        4. Walaupun pertanyaan-pertanyaan itu menyangkut diri kita, namun karena sifatnya masih umum dan luas, sementara itu latar-belakang kita sangat berbeda-beda, maka persepsi kita dapat sangat berbeda-beda pula. Hal ini juga tampak dari pertanyaan-pertanyaan Pak Kisdaryono di atas, yang mempertanyakan titik pandang pemerintah di satu pihak dan warga PUSPIPTEK di lain pihak.
          Dalam tulisannya, Pak Kisdaryono juga mengusulkan kesepakatan yang (pada hemat saya) dapat kita gunakan bersama sebagai basis untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut:
        5. Dalam menghadapi global economy of the new mellinium kita harus percaya bahwa:
      • Partisipasi dalam global economy tidak dapat ditinggalkan
      • Partisipasi itu diatur antara lain dengan "hukum" persaingan, oleh karenanya Indonesia tidak dapat menghindari persaingan global
      • Teknologi diperlukan sebagai tool untuk memenangkan persaingan tersebut
      • Pada akhirnya yang diperlukan adalah kemampuan bangsa kita menghasilkan inovasi produk maupun proses yang kompetitif secara global
        1. Apabila kita ingin memposisikan PUSPIPTEK sebagai unsur yang berperan dalam National System of Innovation (seperti harapan para menteri yang bertanggung jawab atas perkembangan PUSPIPTEK), maka jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut perlu dilandaskan pada pentingnya keterkaitan yang erat antara perkembangan kemampuan penelitian, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang ada di PUSPIPTEK dengan perkembangan dan daya saing ekonomi nasional. Kita perlu percaya bahwa hubungan antara teknologi dan ekonomi "detour" melalui inovasi. Tech-Park yang menawarkan competitive quality opportunity harus merupakan pool of competitive quality talents yang dapat mendorong terjadinya inovasi.
        2. Dengan demikian kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan, dan teknologi di PUSPIPTEK bukan kegiatan yang arahnya sekedar "for the shake of technology", tetapi merupakan kegiatan yang hasilnya dapat dipakai sebagai tool untuk ekonomi. Pendekatannya dapat melalui "technology push" maupun "market pull". Namun perlu disadari bahwa kedua pilihan tersebut tidak sederhana karena casual model yang menghubungkan teknologi dan ekonomi ternyata panjang dan diantaranya terdapat banyak variabel yang sangat mempengaruhi (seperti yang juga disampaikan oleh Pak Ridwan Gunawan dalam presentasinya).
        3. Keberhasilan PUSPIPTEK sangat tergantung pada kerja keras serta kemauan untuk berkomunikasi dan bermitra dengan pihak-pihak lain yang mempengaruhi variabel-variabel tersebut. Perkembangan PUSPIPTEK sebagai Tech-Park yang kompetitif tidak mungkin terjadi semata-mata karena adanya Surat Keputusan pemerintah.
    Harapan Stakeholder
    Presentasi Ibu Roosediana menggambarkan kebijakan industri yang berorientasi pada pembentukan industry clusters untuk membentuk value added chain yang semakin panjang agar pertumbuhan industri di negara kita dapat semakin kompetitif dan memiliki akar yang semakin dalam, sehingga tidak mudah berpindah ke negara lain yang dapat menawarkan comparative advantage yang lebih baik (foot loose).
    Banyak negara, baik yang tengah berkembang maupun yang telah maju seperti negara-negara OECD, juga menggunakan pendekatan clustering. Yang menarik dari pendekatan ini adalah fokusnya terhadap perkembangan daya saing sektor industri melalui pembentukkan innovation networks. Oleh karena itu berbagai kajian di negara-negara OECD mendefinisikan ? (1) Clusters are networks of strongly interdependent firms including specialized suppliers, knowledge producing agents, and customers, linked each others in a value adding production chain. (2) Clusters are built on linkages and relationships that integrate the isolated elements of technology capabilities into a collective national assets.
    Studi OECD -- Technology and Economy: The Key Relationships -- mengutarakan: The links between actors and economic agents in innovation related networks may be arranged in a wide variety of configurations. Networks for given technologies and industrial sectors encompassing the whole innovation process will involve the existence of three main "poles":
    • A scientific pole which generates knowledge and produces scientific papers and trains personnel. This pole is devided into a research component and training component whose proximity will vary. This poles will include public and private research centers, universities, and some firms? laboratories.
    • A technical or techno-industrial pole which generate artifacts, pilot projects, prototypes, test stations, and which produces drawings, patents, standards, rules of the art, etc.
    • A market pole, which corresponds to the universe of users and the professionals or practitioners market.
    Sejumlah pendefinisian di atas menekankan - (1) the central role of industrial innovation and design; (2) the important of feedback effects between downstream (market-related) and upstream (technology-related) phases of innovation and; (3) the critical role of many interactions of science, technology, and innovative activities among firms and between firms with knowledge producing agents.
    Apabila pendekatan kebijakan industri yang dipresentasikan oleh Ibu Roosediana, berbagai kajian OECD di atas, dan pandangan Pak Kisdaryono dipadukan, maka ada sejumlah kesimpulan yang dapat kita tarik:
    • Kebijakan Deperindag yang mengarah pada pembentukan industry clusters untuk memperpanjang rantai pertambahan nilai dan memperdalam akar sektor produksi, memerlukan keterkaitan antara scientific pole, techno-industrial pole, dan market pole dalam sejumlah value adding production chains (perlu diingat presentasi Pak Ridwan Gunawan yang menyatakan bahwa di banyak negara berkembang termasuk Indonesia, masih terdapat berbagai gaps yang mengakibatkan keterkaitan ketiga pole di atas tidak terjadi).
    • Agar PUSPIPTEK dapat meletakkan dirinya sebagai aset yang penting dalam pembentukan industry clusters, maka PUSPIPTEK harus menjadi aset nasional yang terkait erat dengan techno-industrial pole dan market pole dalam suatu jaringan inovasi. Dengan demikian perkembangan PUSPIPTEK dapat dijadikan tool untuk ekonomi, not for the shake of technology itself
    • Untuk menjadi aset nasional yang penting, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk membentuk link & partnership antar laboratorium-laboratorium PUSPIPTEK sehingga dapat terbentuk scientific pole yang kuat.
    Technology Park Sebagai Infrastruktur
    Pak Benito Kodijat dalam presentasinya juga memberikan definisi tentang Tech-Park sebagai berikut:
    Tech-Park is a property based initiative, which:
    • Encourage the formation and growth of knowledge-based industries and other organizations, normally resident at site
    • Has informal and operational links with R&D institutions and universities
    • Has management function wich engaged in transfer of technology and business skills to tenant groups
    Dalam Studi OECD -- Technology and Economy: The Key Relationships -- diutarakan bahwa Science/Techno Parks are sites created by local, regional, and national authorities in order to promote and "informally institutionalise" exchange of information. The authorities provide externalities in the form of land, equipment and particularly sophisticated telecommunications infrastructure, so that links between research centers and private firms, or synergies between local firms and the subsidiaries of national and international groups, may be fostered. The rationale behind the provision of such infrastructure is to encourage the development innovation-related networks. Siting major basic scientific research at the same location will also be beneficial for industry.
    Sejalan dengan pandangan itu, dalam -- Konsep Dasar tentang Technology Park ? Pak Kisdaryono menuliskan bahwa Indonesia telah kehilangan waktu karena Krisis Nasional, dan telah ketinggalan dalam kemajuan dari negara lain yang (mestinya) sebaya. Mau atau tidak, Indonesia harus mengejar ketinggalan tersebut, termasuk ketinggalan dalam memakmurkan rakyatnya. Dari rasionale tersebut, jelas bahwa salah satu quantum leap yang dapat diambil untuk mengejar ketinggalan itu adalah beranjak ke high-tech industry. Istilah yang sering dipakai adalah bergeser dari comparative-based ke competitive-based industry, di mana teknologi adalah salah satu faktor (utama) yang menjanjikan untuk memenangkan persaingan. Namun di pihak lain, Indonesia harus menerima keadaan bahwa ia tidak dapat memaksakan kehendaknya dalam hal keinginan industri jenis apa yang ingin ditarik masuk; paling jauh ia hanya dapat mengarahkan pilihan industri itu dengan jalan menyediakan infrastruktur yang kompatibel dengan industri yang diinginkan masuk. Ringkasnya, Indonesia harus :
    • mengikuti "permintaan pasar", tetapi
    • sekaligus mengarahkannya, dengan menyiapkan infrastruktur yang tepat, kearah yang memungkinkan mengejar ketinggalan dari negara lain.
    Lalu, pertanyaan konkritnya adalah, "Apa sajakah infrastruktur yang diperlukan oleh high-tech industry itu?" Satu hal yang jelas, Technology Park adalah salah satu infrastruktur yang diperlukan. Tetapi perlu diingat, bahwa konsep Technology Park itu dilaksanakan di berbagai negara dengan berbagai bentuk yang belum baku, sehingga untuk dilaksanakan di Indonesia, kita harus memikirkannya dengan mendalam, terutama disesuaikan dengan kebutuhan nyata walaupun kebutuhan nyata itu dapat saja merupakan kebutuhan di masa kini dan masa datang yang kita ingini yang tentu saja belum ada. Untuk Indonesia, tampaknya Technology Park itu harus dilihat sebagai :
    • pertama, sebagai infrastruktur yang diperlukan untuk menarik investasi pada saat ini (atau near future), serta
    • kedua, sebagai langkah strategis untuk mengejar ketinggalan kemajuan melalui quantum leap.
    Technology Park yang dibayangkan adalah yang dapat menawarkan Competitive Quality Opportunity, sebagai berikut :
    • Pertama, ia dilengkapi dengan infrastruktur telekomunikasi data yang mutakhir, dengan kemampuan data transmission dalam jumlah besar dan cepat. Bagi high-tech industry di Jaman Global Information Infrastructure sarana ini mutlak harus ada.
    • Kedua, ia harus dilengkapi dengan sebuah complex of high-tech services yang mencakup pelayanan seperti Research and Development, Engineering Problem Solving, Business Consultancy, Incubation bagi pengembangan usaha baru, dan seterusnya. Salah satu faktor yang penting adalah keterkaitan dengan pendidikan tinggi yang pada dasarnya menyelenggarakan pendidikan, yang tidak saja untuk mengisi kebutuhan skilled workers yang dituntut oleh industri "high-tech" itu, tetapi juga pendidikan tingkat yang lebih tinggi lagi, dalam rangka mengisi Talent Pool yang diperlukan oleh ekonomi yang makin maju. Disamping itu, perguruan tinggi menyelenggarakan penelitian yang kalau digandengkan langsung dengan industri dapat menjadi katalisator bagi tumbuhnya R&D centers, Engineering Research Centers, Training Centers, dan seterusnya.
    • Ketiga, ia harus berada (lokasi fisik) di dalam wilayah industri, (seperti misalnya berada di dalam kawasan industri), karena Technology Park itu dedicated untuk industri. Karena yang akan ditarik adalah high-tech industry, maka sebaiknya wilayah industri itu telah menunjukkan keberhasilannya dalam menarik investor internasional, mempunyai infrastruktur yang kompatibel dengan kebutuhan high-tech industry itu, terutama dalam kualitasnya (seperti pembangkit tenaga listrik berkualitas dan handal, pengolahan air bersih dan air limbah dengan standar kualitas yang tinggi, telekomunikasi, jaringan jalan, dan seterusnya).
    • Keempat, kemunculan high-tech industry dengan Technology Park pendukungnya itu akan memicu tumbuhnya chain of demands, seperti permintaan akan pelayanan perumahan, pelayanan perdagangan, pelayanan umum seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, olah raga dan seterusnya. Ringkasnya, kemunculan high-tech industry beserta Technology Park pendukungnya akan memicu chain of demands yang merupakan chain of opportunities, dan itu adalah wujud dari proses pembangkitan nilai tambah yang pada level agregat merupakan wujud proses pembangkitan kemakmuran.
    Inkubator
    Pak Kisdaryono dalam tulisannya ? Issue TechPark dalam Revitalisasi PUSPIPTEK ? juga mengutarakan bahwa hampir semua Tech-Park melaksanakan fungsi inkubator bagi lahirnya usaha baru. Kalau TechPark memberikan competitive quality business opportunity, maka di situ akan muncul bisnis baru. Sebagai bisnis yang baru muncul, ia memerlukan "santunan" seperti yang diberikan oleh inkubator, yang biasanya meliputi dukungan teknis-substantif, teknis-bisnis, fasilitas fisik bisnis, serta permodalan. Bisnis baru itu "boleh" berada dalam lingkungan TechPark, tetapi sesudah dapat mandiri, "diusir" harus keluar.
    Pak Benito Kodijat dalam presentasinya mendefinisikan fungsi Inkubator sebagai:
    • Providing affordable space located within a techno-park or a university, for new start-up ventures during the pre-venture capital phase
    • Helping embryonic companies overcome barriers to success
    Pandangan Pak Benito Kodijat dan Pak Kisdaryono tersebut, memberikan horizon baru bagi usaha revitalisasi PUSPIPTEK:
    • Bagaimana PUSPIPTEK dengan kemampuannya dapat menyediakan pelayanan seperti Research and Development, Engineering Problem Solving, dan Business Consultancy, sehingga PUSPIPTEK dapat menjadi komponen infrastruktur yang dapat menarik investasi high-tech industry di sekitar PUSPIPTEK? (Techno-Park BSD?)
    • Bagaimana kita mengembangkan program inkubator PUSPIPTEK agar dapat mencakup penyediaan dukungan teknis-substantif, teknis-bisnis, fasilitas fisik bisnis, serta permodalan? Dan apakah telah ada rumusan yang jelas tentang jenis tenant yang diinginkan, serta batasan kapan tenant tersebut harus keluar?
    • Apakah langkah membuka kawasan PUSPIPTEK bagi kegiatan inovasi dan engineering industri serta bagi program paska sarjana dapat menjadikan PUSPIPTEK sebagai meeting point antara kemampuan riset, ketersediaan highly skilled and talented manpower, dan kemampuan inovasi dan engeeniring di industri yang sangat diperlukan untuk pelaksanaan quantum leap?
        1. Kemana Kita Akan Menuju?
        2. Sampailah kita pada hal paling pokok dari kerja Tim Kecil pada tahap ini. Apa prespektif dan obyektif bersama kita tentang perkembangan PUSPIPTEK kedepan? Dengan mempertimbangkan pandangan para pakar yang telah kita minta mempresentasikan berbagai aspek yang terkait dengan pengembangan PUSPIPTEK, serta hal-hal yang telah dibahas dan disepakati oleh Tim Kecil, saya mencoba merumuskannya dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan Pak Kisdaryono sebagai titik tolaknya (terbuka untuk kritik, masukan, dan koreksi):
          Pengertian Revitalisasi
          PUSPIPTEK dibangun dalam kerangka visi untuk meletakkan kemampuan riset, ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sub-sistem pokok yang dapat berperan dalam pelaksanaan pembangunan, khususnya untuk memperkuat struktur dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Sehingga terlepas dari pertanyaan apakah PUSPIPTEK pernah vital dan kemudian menurun, revitalisasi PUSPIPTEK sebaiknya diletakkan pada kerangka visi tersebut.
          Arah Revitalisasi PUSPIPTEK adalah sebagai berikut:
          1. Pengembangan PUSPIPTEK ke depan perlu diarahkan untuk menarik investasi high-tech industry di sekitar Serpong (Sebagai catatan, Deperindag merencanakan pengembangan Industrial Corridor seperti tampak di bawah ini, di mana Serpong termasuk dalam jaringan sentra-sentra industri yang terkait dengan industrial corridor tersebut).
             


          1. PUSPIPTEK harus menjadi Scientic Pole yang dapat mendorong terbentuknya Techno-Industrial Pole dan Market Pole yang terkait dengan kemampuan PUSPIPTEK. Untuk keperluan tersebut PUSPIPTEK perlu mengalokasikan sebagian area dan sarana perkantoran yang dimiliki, bagi keperluan industri melaksanakan kegiatan R&D dan Engineering.
          2. Oleh karena itu laboratorium-laboratorium dan manajemen kawasan PUSPIPTEK harus secara bersama-sama mengorganisasikan dirinya untuk membangun pelayanan Research and Development dan Engineering Problem Solving yang effektif dan akuntabel, serta mengembangkan kerjasama dengan pihak-pihak yang dapat menyediakan business consultancies.
          3. Mendorong perkembangan ITI dan membuka sarana laboratorium untuk pelaksanaan program paska sarjana sebagai langkah untuk memperbesar supply of highly skilled manpower bagi perkembangan high-tech industry disekitar Serpong.
          4. Memperluas program inkubator PUSPIPTEK dan mengembangkan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan kapital ventura, untuk menumbuhkan the emergence knowledge-based venture enterprises.
          5. Mengundang investasi swasta untuk mengembangkan sarana Internet di PUSPIPTEK sebagai pole of growth bagi perkembangan sarana telekomunikasi data yang modern di wilayah Serpong.
    Kewenangan Revitalisasi
    PUSPIPTEK secara keseluruhan adalah suatu policy tool yang dikembangkan oleh Menteri yang terkait dengan riset dan teknologi (sejak Menteri Sumitro Djojohadikusumo) dan telah melibatkan investasi yang besar. Oleh karena itu upaya Revitalisasi PUSPIPTEK memang merupakan tanggung jawab Kantor Menegristek. Namun keberhasilan revitalisasi PUSPIPTEK sangat tergantung pada upaya bersama Kantor Menegristek dan seluruh warga PUSPIPTEK, sehingga upaya untuk memadukan visi yang bersifat top-down dan pembentukan common prespectives and objectives secara bottom-up sangat diperlukan. Ini merupakan langkah awal yang sangat penting untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.
    Motivasi Revitalisasi
    Motivasi Kantor Meneristek merevitalisasi PUSPIPTEK terkait dengan upaya Reposisi Kelembaga Iptek, yang telah ditetapkan oleh Menegristek sebagai salah satu Tujuan Strategis Pembangunan Iptek Nasional. Upaya yang dilakukan bersama warga PUSPIPTEK pada saat ini, bertujuan membentuk shared motivation untuk membawa PUSPIPTEK yang merupakan investasi pemerintah yang besar menjadi aset nasional yang penting.
    Usaha untuk meningkatkan income laboratorium-laboratorium PUSPIPTEK merupakan aspek yang penting, agar perkembangan dirinya tidak terlalu tergantung pada anggaran pemerintah yang sangat terbatas. Namun usaha tersebut harus dilaksanakan dalam kerangka pencapaian arah revitalisasi PUSPIPTEK seperti yang telah dibahas di atas. Dalam hal ini cara yang harus ditempuh menjadi sangat penting, agar sustainable dan secara nyata dapat mentransformasi PUSPIPTEK sebagai aset nasional.

    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

    Translate

    Yahoo Messenger !

    free counters

    Pages

    - Copyright © Blog teknoku -Fahruzi Yuzi- Powered by Blogger - Designed by Fahruzi Yuzi -